RASIOO.id – Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, terus mengembangkan berbagai potensi wilayah sekaligus menangani persoalan masyarakat melalui kolaborasi dengan warga, pelaku usaha, dan pemerintah.
Lurah Cibadak Herry Chaerudin mengatakan, wilayah yang dihuni sekitar 29.420 jiwa tersebut memiliki beragam potensi ekonomi yang tersebar di 15 RW. Potensi itu meliputi budidaya jangkrik, kerajinan serok, ikan hias untuk pasar ekspor, kelompok tani, hingga produksi wajan dan panci di RW 12 yang dikenal sebagai Kampung Berisik.
Meski begitu, sejumlah usaha warga masih menghadapi tantangan. Salah satunya pengrajin ayam ungkep di RW 03 yang mengalami penurunan usaha akibat persaingan harga.
“Memang lagi kondisi saat ini ekonomi kurang baik-baik saja, jadi kelihatannya usaha ayam ungkep ini mulai menurun,” ujar Herry, Senin, 10 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, pengrajin biasanya menjual ayam sekitar Rp8 ribu. Harga tersebut sulit bersaing dengan makanan lain yang menawarkan paket nasi dengan harga sekitar Rp10 ribu.
“Setelah kita diskusi dengan pengrajin, biasanya mereka jual ayamnya saja Rp8 ribu, tapi kalah bersaing dengan porsi nasi padang murah seharga Rp10 ribu. Ini menjadi salah satu permasalahan yang butuh intervensi,” tuturnya.
Sementara itu, aktivitas produksi wajan dan panci di RW 12 tetap menjadi salah satu ciri khas ekonomi warga. Kawasan tersebut dikenal sebagai Kampung Berisik atau Kampung Ganteng karena suara dentangan dari aktivitas produksi yang berlangsung setiap hari. Produksi kerupuk kulit rumahan juga masih berkembang di wilayah tersebut.
Di sektor lingkungan, Kelurahan Cibadak mengandalkan TPS3R Cibadak dan Bank Sampah Orchid di RW 15 untuk menangani persoalan sampah. Namun, akses jalan di RW 04 dan pengelolaan komposter masih menjadi sejumlah kendala.
“Untuk penanganan sampah, kita sudah dibantu satu unit armada motor sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ke depan, kita berencana membangun integrasi fasilitas Bank Sampah di sebelah TPS3R Tamansari Persada untuk meningkatkan partisipasi nasabah warga,” kata Herry.
Upaya penanganan masalah sosial juga dilakukan melalui kerja sama dengan dunia usaha. Kelurahan Cibadak menggandeng sembilan perusahaan lokal melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk menjadi bapak asuh bagi 41 anak yang masuk dalam penanganan stunting.
“Kami mencoba merangkul para pelaku usaha yang berkenan bekerja sama menangani stunting. Kami berharap keberadaan pelaku usaha di Kelurahan Cibadak ini manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat, bukan hanya mengeruk keuntungan semata,” ujarnya.
Camat Tanah Sareal Rokib menambahkan, perkembangan wilayahnya membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk pemberitaan yang berimbang. Menurutnya, kolaborasi diperlukan agar potensi ekonomi dan berbagai persoalan di wilayah dapat ditangani secara berkelanjutan.










Komentar