RASIOO.id – SMAN 14 Kota Tangerang, Kecamatan Batuceper, memberikan klarifikasi terkait polemik dugaan pengeluaran sepihak terhadap siswa kelas XII berinisial DA.
Pihak sekolah menegaskan DA tidak dikeluarkan, melainkan mengajukan pindah sekolah setelah melalui proses klarifikasi bersama pihak sekolah dan keluarga.
Wakil Kepala SMAN 14 Kota Tangerang, Suhenda, mengatakan proses klarifikasi telah dilakukan dengan melibatkan pihak sekolah, siswa, dan orang tua.
“Semua proses sudah dilalui dengan baik. Tabayun dengan pihak keluarga sudah dilakukan,” ujar Suhenda pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Menurut Suhenda, persoalan tersebut berkaitan dengan keberadaan grup WhatsApp “Bad Boys”. Berdasarkan keterangan sejumlah siswa kelas X, XI, dan XII, pihak sekolah menyebut DA diduga menjadi pimpinan kelompok dalam grup tersebut.
“Dari keterangan saksi-saksi, semuanya mengarah kepada DA sebagai pimpinan kelompok itu,” katanya.
Pihak sekolah juga mengaku menerima keberatan dari sejumlah orang tua siswa kelas X yang anaknya disebut diajak bergabung dalam grup tersebut. Dari proses klarifikasi, sekolah mengklaim menemukan dugaan unsur pemaksaan dan ancaman terhadap sejumlah siswa.
“Ada bukti chat-nya. Guru kami sempat screenshot bukti itu,” ujarnya.
Namun, keberadaan dua admin dalam grup tersebut masih menjadi pertanyaan. Selain DA, terdapat satu siswa lain yang disebut berstatus sebagai admin. Suhenda mengatakan pihak sekolah masih mendalami keterlibatan siswa tersebut.
“Masih kita dalami. Apabila ada temuan yang mengarah ke hal yang bisa diambil tindakan, kami tetap ambil tindakan sesuai prosedur,” jelasnya.
Selain persoalan grup WhatsApp, sekolah menyebut DA juga pernah kedapatan merokok menggunakan seragam sekolah. Peristiwa tersebut, kata Suhenda, dilihat langsung oleh salah seorang guru.
“DA ketahuan langsung oleh guru kami sedang merokok,” ucapnya.
Meski demikian, Suhenda kembali menegaskan DA tidak dikeluarkan dari SMAN 14 Kota Tangerang. Menurutnya, DA bersama keluarga memilih mengajukan pindah sekolah agar tetap dapat melanjutkan pendidikan.
“Tidak ada pengeluaran dari sini, tidak ada pemecatan. DA tetap sekolah, tetapi di tempat lain,” katanya.
Terkait isu geng motor, Suhenda menegaskan pihak sekolah tidak pernah menyatakan DA sebagai anggota geng motor. Sekolah bersama Forum Komunikasi Masyarakat Sekolah (FKPMS) dan kepolisian hanya melakukan upaya pencegahan terhadap kelompok yang berpotensi mengarah pada geng motor.
“Kami tidak memberikan statement soal geng motor. Kami khawatir organisasi tersebut mengarah ke sana, sehingga lebih baik langsung dibubarkan,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai dugaan keterlibatan DA dalam geng motor, Suhenda menyebut hal tersebut merupakan ranah kepolisian.
“Itu ranahnya kepolisian. Kami tidak memberikan statement semacam itu,” katanya.
Sementara terkait proses kepindahan DA, pihak sekolah memastikan telah memberikan surat yang menerangkan bahwa DA merupakan siswa SMAN 14 hingga tanggal tertentu.
Adapun surat keterangan berkelakuan baik yang disebut berkaitan dengan proses kepindahan, menurut Suhenda, bukan kewenangan sekolah.
“Kalau masalah kelakuan baik, itu urusan kepolisian. Sekolah hanya bisa merekomendasikan bahwa betul anak tersebut siswa kami sampai tanggal sekian,” tuturnya.
Suhenda mengatakan proses antara sekolah dan keluarga DA telah diselesaikan melalui tabayun. Ia berharap persoalan tersebut tidak terus diperbesar karena dikhawatirkan berdampak terhadap masa depan DA.
“Yang rugi nanti anak itu sendiri. Kami masih sayang kepada anak itu. Jadi biarlah persoalan ini selesai supaya DA tetap bersekolah sampai lulus,” pungkasnya.















Komentar