RASIOO.id – Aroma kopi kembali memenuhi kawasan Sempur, Kota Bogor. Bukan sekadar menjadi minuman yang disajikan dalam secangkir gelas, kopi dalam Festival Kopi Legendaris Bogor membawa cerita panjang tentang perjalanan sejarah, budaya, hingga geliat ekonomi kreatif Kota Hujan.
Pemerintah Kota Bogor resmi membuka Festival Kopi Legendaris Bogor ke-2 yang berlangsung selama tiga hari, Jumat hingga Minggu, 21–23 Agustus 2026, di kawasan Sempur. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Festival Merah Putih 2026.
Pada Jumat, festival berlangsung pukul 13.00–20.00 WIB. Sementara pada Sabtu dan Minggu, pengunjung dapat menikmati rangkaian acara mulai pukul 08.00 hingga 20.00 WIB.
Membuka festival, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengajak masyarakat melihat kopi dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, Festival Kopi Legendaris bukan semata-mata tempat menikmati secangkir kopi, tetapi juga ruang untuk menghidupkan kembali ingatan sejarah Kota Bogor.
“Bogor itu secara histori menjadi kota tempat aklimatisasi bibit kopi pertama di Indonesia pada tahun 1817 di Kebun Raya,” ujar Dedie saat membuka Festival Kopi Legendaris, Jumat (21/8/2026).
Sejarah tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kopi memiliki tempat khusus dalam perjalanan Kota Bogor. Pada masa Cultuurstelsel, Bogor juga menjadi salah satu wilayah yang digunakan untuk mengembangkan dan menguji berbagai tanaman komersial, termasuk kopi, cokelat, dan kelapa sawit.
Jejak sejarah perkopian Bogor bahkan tidak berhenti di kawasan perkebunan. Kota ini juga mencatat keberadaan klub kopi pertama di Hindia Belanda atau Buitenzorg.
Tak kalah menarik, Bogor memiliki rekam jejak industri kopi yang cukup tua melalui Pabrik Kopi Bah Sipit di kawasan Empang. Pabrik tersebut disebut telah berdiri sejak 1925 dan menjadi bagian dari perjalanan panjang industri kopi di Kota Bogor.
Bagi Dedie, warisan sejarah tersebut merupakan modal penting untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif sekaligus memperkuat ambisi Bogor sebagai City of Gastronomy.
“Gastronomi itu bukan hanya soal kafe dan restoran di hilir, tetapi bagaimana ekosistemnya dibangun dari hulu ke hilir. Kopi adalah bagian dari identitas kota,” tuturnya.
Meski kini Kota Bogor tidak lagi memiliki hamparan perkebunan kopi seluas masa lalu, semangat menghidupkan kembali identitas kopi Bogor terus tumbuh. Para pelaku usaha, komunitas, hingga masyarakat dinilai memiliki peran penting dalam membawa kopi Bogor agar semakin dikenal dan memiliki daya saing.
Festival Kopi Legendaris Bogor 2026 pun menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan berbagai unsur tersebut. Pengunjung dapat menemukan beragam produk kopi khas lokal, booth UMKM, hingga pertunjukan seni dan budaya.
Festival ini sekaligus menjadi upaya menjembatani sejarah dengan perkembangan industri kopi masa kini. Dari jejak bibit kopi di Kebun Raya, perjalanan industri di masa lalu, hingga kreativitas pelaku usaha kopi hari ini, semuanya bertemu dalam satu ruang di Sempur.
Dedie berharap Festival Kopi Legendaris dapat terus digelar secara konsisten setiap tahun. Ia menilai keberlanjutan kegiatan tersebut penting untuk menjaga identitas kopi Bogor sekaligus membuka peluang lebih besar bagi sektor ekonomi kreatif dan pariwisata.
Dengan begitu, secangkir kopi Bogor bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang sejarah panjang sebuah kota yang terus berusaha meracik masa lalunya menjadi peluang di masa depan. (Hana)















Komentar