BOGOR — Penanganan kasus tengkes (stunting) di Kelurahan Kencana kini menghadapi benteng tebal yang sulit ditembus. Meski intervensi gizi terus digencarkan, angka stunting di wilayah ini seolah tertahan di kisaran 40 kasus. Biang kerok utamanya ternyata bukanlah program yang stagnan, melainkan tingginya mobilitas penduduk migran yang menghuni rumah-rumah kontrakan.
Dinamika kependudukan ini menciptakan siklus yang tak kunjung usai. Di saat balita warga lokal berhasil keluar dari risiko stunting berkat pendampingan gizi, gelombang keluarga pendatang baru yang berekonomi lemah justru masuk dan menambah daftar kasus baru.
Lurah Kencana, Heri Agus Suherman, mengungkapkan tantangan penanganan yang dihadapi jajarannya di lapangan.
“Kalau stunting kita kurang lebih 40-an ya. Begitu ada penduduk baru datang tinggal di sini dan dicek, ternyata dia punya risiko tinggi stunting. Yang satu berkurang, datang lagi. Harusnya berkurang, tapi ya nambah lagi,” ujar Heri, Jumat 21 Agustus 2026.
Faktor Pemicu & Program Inovatif Intervensi Gizi
Ketidakstabilan angka stunting ini dipicu oleh beberapa faktor dominan pada keluarga migran:
Ekonomi Lemah: Kondisi finansial yang belum mapan berdampak langsung pada minimnya asupan gizi harian.
Usia Muda Orang Tua: Kurangnya pemahaman dan kesiapan dalam pemenuhan nutrisi anak.
Hunian Berpindah-pindah: Status tempat tinggal kontrakan yang kerap berganti menyulitkan pemantauan berkala.
Menghadapi tantangan tersebut, Kelurahan Kencana tidak tinggal diam dan menerjunkan sejumlah inovasi intervensi gizi berbasis masyarakat:
Orang Tua Asuh Stunting: Program pendampingan khusus bagi keluarga terdampak.
Ayo Tingting (Ayo Berantas Stunting): Gerakan kolaboratif tingkat kelurahan untuk edukasi dan pencegahan.
Banting Lur (Barisan Pentingkan Telur): Pendistribusian bahan pangan tinggi protein hewani secara berkala.
Dapur Dashat (Dapur Sehat Atasi Stunting): Penyediaan bantuan makanan bergizi seimbang yang terfokus pada telur dan ikan.
Pemerintah Kelurahan Kencana berkomitmen untuk terus merangkul seluruh warga tanpa membedakan status kependudukan demi memastikan tumbuh kembang balita tetap terjaga secara optimal.














Komentar