Stasiun Bogor Bakal Dipoles, KRL Digadang-gadang Tembus Lido hingga Cigombong

RASIOO.id – Wajah kawasan Stasiun Bogor bakal mengalami perubahan. Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) tengah menyiapkan penataan kawasan stasiun sekaligus rencana pengembangan jaringan KRL menuju wilayah Lido, Cigombong.

Rencana tersebut mengemuka setelah Pemkot Bogor melakukan pertemuan dengan Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasydin. Kesepakatan kerja sama itu rencananya dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) yang akan ditandatangani pada 25 Agustus 2026.

Penataan Stasiun Bogor menjadi salah satu prioritas karena tingginya mobilitas pengguna kereta. Jalur Bogor Line tercatat menjadi salah satu lintasan dengan jumlah penumpang tertinggi di Indonesia, dengan rata-rata lebih dari 100 ribu penumpang setiap hari.

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan kepadatan penumpang bahkan semakin terasa pada akhir pekan. Jumlah pengguna KRL disebut pernah menembus 160 ribu orang dalam sehari.

Karena itu, pembenahan stasiun dinilai perlu dilakukan agar mampu mengikuti perkembangan jumlah penumpang. Namun, modernisasi tersebut tetap akan mempertahankan karakter dan nilai sejarah bangunan Stasiun Bogor.

“Stasiun Bogor akan dikembalikan seperti aslinya, tetapi kemudian ditambah fasilitas, kemudian diintegrasikan dengan area milik Pemerintah Kota Bogor,” kata Dedie saat ditemui di Sempur, Jumat (21/8/2026).

KRL Menuju Lido Jadi Harapan Baru

Tak hanya stasiun utama yang menjadi perhatian. Pemkot Bogor juga mendorong aktivasi kembali jalur kereta hingga Lido, Cigombong.

Jika rencana tersebut terealisasi, masyarakat Bogor Selatan maupun warga Kabupaten Bogor di sekitar wilayah tersebut akan memiliki alternatif transportasi langsung menuju Jakarta tanpa harus terlebih dahulu menggunakan angkutan umum menuju pusat Kota Bogor.

Dedie menyebut sejumlah titik dapat menjadi bagian dari konektivitas tersebut, mulai dari Lido, Cigombong, Maseng, Ciomas Rancamaya, Batutulis, BNR hingga Stasiun Paledang.

“Kalau KRL itu sampai ke Lido, kan artinya masyarakat dari Bogor Selatan, masyarakat dari wilayah Kabupaten Bogor kalau mau ke Jakarta tidak perlu naik angkutan penumpang umum sampai ke Alun-Alun,” ujarnya.

Stasiun Sukaresmi Ikut Disiapkan

Pengembangan jaringan transportasi juga diarahkan melalui pembangunan Stasiun Sukaresmi. Pemkot Bogor menyiapkan lahan sekitar 1,6 hektare untuk stasiun yang direncanakan menjadi titik antara Bogor dan Cilebut.

Keberadaan stasiun tersebut diharapkan dapat memangkas beban Stasiun Bogor. Warga dari kawasan Sentul maupun Dramaga nantinya tidak harus masuk terlebih dahulu ke pusat kota untuk mengakses layanan kereta.

“Penumpang dari arah Sentul, kemudian dari arah Dramaga, tidak perlu masuk sampai ke Stasiun Bogor. Artinya dari Sentul bisa langsung masuk melalui Stasiun Sukaresmi,” kata Dedie.

Disiapkan Terintegrasi dengan Trem Pakuan

Dalam jangka panjang, Pemkot Bogor ingin membangun sistem transportasi yang saling terhubung. Jalur KRL yang dikembangkan nantinya akan diarahkan untuk terintegrasi dengan Trem Pakuan serta wacana rute Lingkar Bogor.

Konsep tersebut diproyeksikan menghubungkan sejumlah kawasan mulai dari Kota Bogor, Sentul hingga Cibinong.

Dengan konsep konektivitas tersebut, mobilitas warga diharapkan tidak lagi bertumpu pada satu titik. Stasiun Bogor tetap menjadi simpul utama, sementara stasiun-stasiun baru dan pengembangan jalur kereta dapat menjadi alternatif bagi masyarakat dari berbagai wilayah.

Untuk pendanaan, Dedie menyebut proyek tersebut akan mengandalkan dukungan pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Kementerian Perhubungan, serta sumber pembiayaan investasi lainnya.

Jika seluruh rencana berjalan sesuai tahapan, penandatanganan MoU pada 25 Agustus 2026 akan menjadi langkah awal menuju perubahan besar sistem transportasi Bogor—dari sekadar mempercantik stasiun menjadi membangun jaringan transportasi yang lebih terintegrasi.

Komentar