RASIOO.id – Sungai Cisadane mulai menunjukkan dampak kemarau panjang. Debit air yang mengalir menuju Pintu Air 10, Kota Tangerang, mengalami penyusutan setelah pasokan dari wilayah hulu Bogor berada di bawah kondisi normal.
Kondisi tersebut membuat seluruh pintu air di Bendungan Pintu Air 10 untuk sementara ditutup. Meski tinggi muka air mengalami penurunan cukup signifikan, kondisi irigasi hingga saat ini masih dinyatakan aman.
Petugas Operasional Bendungan Pintu Air 10, Suyadi, mengatakan penutupan dilakukan karena saat ini tidak terdapat debit limpasan yang cukup dari arah hulu.
Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar air yang tersedia dapat ditahan dan dimanfaatkan untuk kebutuhan irigasi maupun keperluan lainnya.
“Untuk sekarang ini tidak ada debit limpas, pintu-pintu ditutup semua karena tidak ada pasokan dari Bogor, tidak seperti biasanya dan di bawah normal. Jadi kita tutup agar bisa masuk ke irigasi dan digunakan untuk hal yang lain,” kata Suyadi, Selasa 1 September 2026.
Muka Air Turun Hampir 1 Meter
Minimnya pasokan dari hulu turut berdampak pada tinggi muka air di Pintu Air 10.
Dalam kondisi normal, tinggi muka air berada di kisaran 12,40 meter. Namun kini angkanya telah turun menjadi sekitar 11,55 meter.
“Harusnya di atas 12,00, sekitar 12,40 normal, sekarang sudah 11,55. Jadi sudah jauh berkurang,” jelasnya.
Suyadi mengatakan penurunan tersebut mulai terlihat dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, tinggi muka air masih relatif stabil di kisaran 12,30 hingga 12,40 meter meski sejumlah wilayah di bagian hilir mulai mengalami kekeringan.
Pasokan dari Bogor bahkan sempat kembali meningkat pada 17 Agustus 2026 sehingga tinggi muka air ikut naik. Namun, peningkatan tersebut tidak berlangsung lama.
Setelah itu, debit kiriman kembali menurun dan menyebabkan tinggi muka air di Pintu Air 10 ikut merosot.
Kondisi tersebut diduga kuat berkaitan dengan kemarau panjang yang membuat aliran air dari wilayah hulu Bogor berada di bawah kondisi normal.
Irigasi Masih Aman, Warga Diminta Tak Panik
Meski terjadi penurunan tinggi muka air, masyarakat diminta tidak panik. Suyadi memastikan kondisi Pintu Air 10 masih berada dalam kategori aman, terutama untuk kebutuhan irigasi.
“Aman, masih amanlah. Walaupun terjadi penurunan seperti sekarang ini, tapi di irigasi masih dalam kategori aman,” tegasnya.
Namun, kondisi tersebut tetap membutuhkan perhatian. Masyarakat diimbau menggunakan air secara bijaksana dan tidak membuang air secara percuma selama pasokan dari wilayah hulu belum kembali normal.
“Imbauan dari Pak Kementerian Pusat, dari Dirjen kemarin dan dari Pak Wali Kota untuk kita jangan khawatir, jangan terlalu panik, air pasti dalam kategori aman. Intinya Pak Wali juga mengimbau agar bijaksana menggunakan air,” tuturnya.
Ia kembali mengingatkan masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan memanfaatkannya sesuai kebutuhan.
“Iya, masyarakat diimbau untuk lebih menghemat air,” ujarnya.
Suyadi berharap musim kemarau segera berlalu sehingga kiriman air dari Bogor kembali normal. Menurutnya, kondisi tersebut akan membantu menjaga ketersediaan air di Pintu Air 10 sekaligus memastikan kebutuhan irigasi tetap terpenuhi.
“Mudah-mudahan musim kemaraunya cepat berlalu dan air kiriman dari Bogor juga sudah kembali normal seperti biasanya. Masyarakat juga diimbau tetap menjaga agar air bisa digunakan dengan semestinya, tidak dibuang dengan percuma,” harapnya.
Pintu Air Berusia Hampir Seabad
Pintu Air 10 atau Bendung Pasar Baru/Sangego merupakan salah satu bangunan pengendali air penting di Sungai Cisadane, Kota Tangerang.
Bangunan bersejarah tersebut dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada 1927 hingga 1932. Bendungan ini memiliki 10 pintu air besar dengan lebar masing-masing sekitar 10 meter.
Keberadaannya tidak hanya berfungsi untuk mengendalikan banjir, tetapi juga menjaga ketersediaan air baku untuk kebutuhan pengolahan air bersih serta mendukung sistem irigasi di sejumlah wilayah.
Di kawasan tersebut juga terdapat intake atau pintu air berukuran lebih kecil yang mengatur aliran menuju sejumlah wilayah lainnya, termasuk kawasan Teluknaga dan Sepatan, Kabupaten Tangerang.
Dengan kondisi debit Cisadane yang kini menyusut, keberadaan Pintu Air 10 kembali menjadi penting. Bukan hanya sebagai pengendali aliran, tetapi juga sebagai salah satu titik strategis dalam menjaga ketersediaan air di tengah tekanan kemarau panjang. (Hana)















Komentar