RASIOO.id– Pemerintah resmi memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 melalui groundbreaking yang digelar Kamis, 17 September 2026.
Proyek ini menggabungkan dua teknologi pengolahan sampah, yakni PSEL untuk mengolah sampah baru menjadi energi listrik dan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah lama atau deposit di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi bahan bakar solar.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, persoalan sampah yang menumpuk selama puluhan tahun tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu metode. Karena itu, PSEL dan pabrik pirolisis dirancang untuk saling melengkapi dalam menangani sampah harian sekaligus mengurangi tumpukan sampah lama di TPA.
“Sampah ini persoalan sangat besar dan darurat. Tumpukan sampah lama kan sudah seperti bangunan puluhan lantai, kita tidak tahu berapa puluh tahun baru kelar,” tuturnya.
“Maka ini saling melengkapi, sampah yang baru diolah menjadi listrik, sedangkan sampah yang lama dipirolisis diolah menjadi solar,” tambahnya.
Zulkifli juga mengapresiasi keterlibatan TNI dalam penanganan persoalan sampah. Ia menyebut pemerintah akan mengawal berbagai hambatan regulasi maupun birokrasi yang berpotensi menghambat investasi proyek tersebut.
“Kalau ada hambatan, kirim surat ke kami. Kami ajak rapat cepat. Jika tidak selesai, kami datangi langsung atau kita bawa ke Presiden,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menjelaskan, pembangunan PSEL Bogor Raya 1 telah melalui proses panjang sejak Mei 2025, termasuk penyesuaian regulasi dari Perpres Nomor 35 menjadi Perpres Nomor 109.
Fasilitas tersebut ditargetkan mampu mengolah hingga 1.500 ton sampah per hari dari wilayah Kabupaten Bogor dan Kota Bogor. Dari jumlah itu, 1.000 ton berasal dari Kabupaten Bogor dan 500 ton dari Kota Bogor.
“Dari jumlah tersebut, sebesar 10 persen atau sekitar 150 ton per hari diambil dari mining atau pengerukan sampah lama,” jelasnya.
Selain PSEL, pyrolysis plant yang berada di kawasan yang sama dan didukung TNI serta investor ditargetkan mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah deposit eksisting per hari.
“Kombinasi PSEL dan pirolisis ini kalau berjalan mulus, persoalan kedaruratan sampah di wilayah Bogor paling tidak bisa mulai terurai,” ujarnya.
PSEL Bogor Raya 1 dibangun di atas lahan seluas sekitar 6 hektare dan ditargetkan menghasilkan daya listrik sebesar 24 MegaWatt peak (MWp). Energi tersebut telah memiliki kepastian pembeli setelah ditandatanganinya Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT PLN (Persero).
“PLN sudah berkomitmen membelinya sesuai ketentuan Perpres 109. Jadi kepastian investasinya jelas,” kata Dedie.
Sisa hasil pembakaran berupa Fly Ash Bottom Ash (FABA) juga direncanakan untuk dimanfaatkan kembali, antara lain sebagai material pengurugan serta bahan baku paving block, batako, U-ditch hingga box culvert.
Untuk mendukung operasional PSEL berteknologi Tiongkok yang dikelola bersama Danantara, pemerintah saat ini tengah menyelesaikan sejumlah infrastruktur pendukung, termasuk pembangunan akses jalan sepanjang 1,7 kilometer, pematangan lahan serta konstruksi beberapa jembatan.
Di sisi lain, Pemkot Bogor juga menyiapkan pembangunan PSEL Bogor Raya 2 di Kayumanis. Groundbreaking proyek tersebut ditargetkan berlangsung pada November 2026 dengan kapasitas pengolahan mencapai 1.500 ton sampah per hari.
Rencana tersebut disiapkan karena timbulan sampah Kota Bogor mencapai hampir 1.000 ton per hari, sementara PSEL Bogor Raya 1 hanya mengalokasikan kapasitas sekitar 500 ton untuk sampah dari Kota Bogor.
Meski teknologi pengolahan sampah menjadi listrik dan solar mulai disiapkan, Dedie mengimbau masyarakat tetap memperkuat gerakan pemilahan sampah dari rumah melalui reduce, reuse, recycle.
“Sayang kalau semua sampah langsung dibakar pada suhu 850 derajat. Jenis plastik seperti polipropilena atau PET masih punya nilai ekonomi tinggi. Jika dipilah dari lingkungan masyarakat, itu bisa menghasilkan uang sebelum sisa akhirnya masuk ke pengolahan hilir,” tandasnya.













Komentar