RASIOO.id – Ikatan Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang menggelar kongres selama dua hari, Sabtu-Minggu, 19-20 September 2026, di Kota Tangerang.
Kongres tersebut menjadi forum konsolidasi alumni sekaligus momentum untuk memperkuat kontribusi lulusan STISNU Nusantara Tangerang bagi almamater dan masyarakat.
Mengusung tema “Meneguhkan Ukhuwah dan Menguatkan Kontribusi STISNU untuk Bangsa dan Negara”, kongres menetapkan Ari Sujatmiko, alumni angkatan 2019, sebagai Ketua Umum IKA STISNU Nusantara Tangerang terpilih.
Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Keagamaan STISNU Nusantara Tangerang, KH Mohamad Mahrusillah, meminta kepengurusan baru tidak terjebak pada kegiatan yang bersifat seremonial.
Menurutnya, setiap program kerja harus memiliki tujuan, indikator keberhasilan, keberlanjutan, serta dampak yang dapat dirasakan masyarakat.
“Program kerja harus memiliki tujuan, indikator, keberlanjutan, dan dampak yang dapat dirasakan. IKA dapat mengembangkan forum diskusi, kajian keilmuan, riset sosial-keagamaan, pengembangan kapasitas, kolaborasi, dan harus bisa menjadi mitra kritis serta mitra strategis pemerintah pusat hingga pemerintah daerah,” ujar Mahrusillah.
Mahrusillah juga mengingatkan keberagaman latar belakang alumni yang tergabung dalam berbagai organisasi eksternal tidak boleh menimbulkan sekat di internal IKA STISNU.
“Ketika kita masuk dalam rumah besar IKA STISNU, sekat-sekat itu harus kita letakkan terlebih dahulu. Yang kita kedepankan adalah identitas kita sebagai alumni. Jangan ada ego organisasi, ego kelompok, apalagi merasa paling memiliki,” katanya.
Ia menegaskan, persatuan alumni bukan berarti menyeragamkan pandangan maupun latar belakang, melainkan membangun kolaborasi berdasarkan kemanfaatan bagi masyarakat luas.
Ketua Umum IKA STISNU Nusantara Tangerang terpilih, Ari Sujatmiko, mengatakan kepemimpinannya akan diarahkan pada pengabdian kepada masyarakat serta penguatan jejaring alumni.
“Kita harus membangun IKA bukan untuk kebesaran nama pengurus, tetapi untuk kebesaran manfaatnya. Ikatan Alumni ini harus menjadi tempat berkumpulnya pikiran, tenaga, dan gagasan untuk kemudian dikembalikan kepada almamater dan masyarakat banyak. Sebab, setinggi-tingginya ilmu pengetahuan, puncaknya adalah manifestasi dari pengabdian kepada masyarakat,” ujar Ari.
Ari juga mengajak seluruh alumni mengoptimalkan potensi dan sumber daya, baik dari dalam maupun luar organisasi, untuk menjalankan berbagai program kerja ke depan.
“Kita harus percaya pada kekuatan sendiri. Alumni memiliki kompetensi, jaringan, dan pengalaman yang beragam. Kalau semuanya kita satukan dalam semangat gotong royong, IKA STISNU tidak akan menjadi organisasi yang hanya menunggu bantuan, tetapi menjadi organisasi yang mampu menciptakan gagasan, membangun jejaring, dan melahirkan karya-karya nyata di tengah masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Demisioner IKA STISNU Nusantara Tangerang, Asyik, mengapresiasi terselenggaranya kongres tersebut.
Ia berharap kepengurusan baru dapat melanjutkan fondasi yang telah dibangun, menyelesaikan program yang belum tuntas, serta menjaga soliditas alumni.
“Kongres ini menjadi tonggak estafet kepemimpinan yang penting. Kami berharap pengurus baru dapat melanjutkan program yang belum tuntas, menjaga soliditas, dan membawa IKA STISNU semakin berdampak bagi kemajuan almamater serta umat,” pungkas Asyik.











Komentar