RASIOO.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang kembali menggaungkan optimisme penyerapan tenaga kerja melalui program unggulan 3G (Gampang Kerja, Gampang Sembako, dan Gampang Sekolah).
Program ini diklaim mampu menekan pengangguran sekaligus menjamin lulusan perguruan tinggi terserap ke dunia kerja.
Klaim tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Tangerang Maryono Hasan saat menghadiri prosesi wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang di Grand Hajj, Cipondoh, Kamis, 22 Januari 2026.
Maryono menyebut sinergi antara dunia pendidikan dan dunia kerja sebagai prioritas Pemkot. Salah satu instrumen yang diandalkan adalah Balai Latihan Kerja (BLK) di bawah Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Tangerang.
“Kami memiliki program 3G. Untuk ‘Gampang Kerja’, kami sudah menyiapkan BLK bagi pencari kerja. Informasi lowongan bisa dipantau melalui media sosial Disnaker dan Forkopimda,” ujar Maryono.
Namun, hingga kini Pemkot belum memaparkan data kuantitatif terkait tingkat keberhasilan program tersebut—mulai dari jumlah lulusan BLK yang terserap kerja, durasi tunggu kerja, hingga kesesuaian antara pelatihan dan kebutuhan industri.
Maryono juga mengklaim Pemkot Tangerang telah melampaui pasar kerja lokal dengan menempatkan sejumlah alumni BLK di Jepang. Bahkan, rencana ekspansi ke Turki dan Jerman disebut tengah dipersiapkan.
Pernyataan itu kembali menyisakan pertanyaan soal skala dan dampak. Pemkot belum mengungkap berapa banyak tenaga kerja yang benar-benar diberangkatkan, sektor apa yang dimasuki, serta apakah skema tersebut mampu menjawab pengangguran terdidik yang jumlahnya terus bertambah setiap tahun.
Untuk mendukung ambisi pasar global, Pemkot menyediakan pelatihan bahasa asing gratis, seperti Bahasa Inggris dan Jepang. Program ini disebut sejalan dengan arahan Kementerian Agama soal penguatan kompetensi global lulusan.
“Bahasa asing perlu dikuasai. Kota Tangerang sudah menyiapkan pelatihan agar lulusan memiliki daya saing,” kata Maryono.
Di sisi lain, pengamat ketenagakerjaan menilai pelatihan bahasa tanpa jaminan link and match dengan industri berpotensi hanya menjadi proyek pelatihan berulang tanpa kepastian kerja.
Terkait institusi pendidikan seperti STISNU, Pemkot menyatakan komitmen untuk terus berkolaborasi lintas sektor. Maryono menegaskan kebijakan publik akan diselaraskan dengan kebutuhan dunia usaha agar lulusan perguruan tinggi terserap maksimal.
“Kami terus bersinergi antara dunia pendidikan dan dunia usaha untuk mengisi pembangunan Kota Tangerang,” ujarnya.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan persoalan ketenagakerjaan tak sesederhana slogan program. Tantangan mismatch kompetensi, keterbatasan lapangan kerja formal, hingga dominasi sektor informal masih menjadi pekerjaan rumah serius.
Di akhir sambutannya, Maryono menyemangati para wisudawan agar tetap tangguh dan percaya diri menghadapi dunia pascakampus.
“Jadilah pribadi yang mandiri dan berdaya saing,” pungkasnya.
Simak rasioo.id di Google News













Komentar