RASIOO.id – Pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dramaga 04, Muhamad Syukron Anugrah, menyatakan akan melakukan evaluasi setelah dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut dihentikan operasionalnya menyusul dugaan keracunan yang dialami ratusan siswa SMP di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.
Syukron yang juga menjabat Ketua DPK KNPI Kecamatan Dramaga membenarkan bahwa SPPG Dramaga 04 merupakan miliknya.
“Iya betul kang (miliknya),” kata Syukron kepada RASIOO.id, Rabu, 28 Oktober 2026.
Ia mengatakan, pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap operasional dapur tersebut. Namun, Syukron mengaku masih menunggu arahan dari Badan Gizi Nasional (BGN) terkait mekanisme evaluasi yang akan dilakukan.
“Pasti ada evaluasi, belum tahu (evaluasinya seperti apa), lagi nunggu arahan BGN,” jelasnya.
Sebelumnya, lebih dari 400 siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG yang dibagikan di sejumlah sekolah tingkat SMP di Dramaga. Dugaan awal mengarah pada bumbu kacang yang dikonsumsi para siswa.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, BGN menghentikan operasional SPPG Dramaga 04 hingga batas waktu yang belum ditentukan. Keputusan itu diambil setelah muncul dugaan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dalam pengolahan bahan makanan untuk program MBG.
Kepala KPPG Bogor Raya, Haidiri, mengatakan dugaan awal penyebab gangguan kesehatan siswa berkaitan dengan campuran bumbu kacang yang diolah pihak ketiga sebelum digunakan oleh SPPG.
“Dugaan awalnya disebabkan oleh campuran bumbu kacang yang telah diolah oleh pihak ketiga sebelum digunakan pada SPPG, hal ini tentu melanggar ketentuan yang seharusnya dilaksanakan,” kata Haidiri, Rabu, 28 Oktober 2026.
Menurut Haidiri, penggunaan bahan makanan yang tidak sesuai ketentuan menjadi persoalan serius dalam pelaksanaan program MBG. Karena itu, BGN memutuskan menghentikan operasional SPPG Dramaga 04 mulai malam hari saat keputusan tersebut disampaikan.
“Mulai malam hari ini, Badan Gizi Nasional memutuskan bahwa SPPG Dramaga 04 Bogor dihentikan operasionalnya sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh SPPG wajib menjalankan SOP untuk memastikan makanan yang diberikan kepada anak-anak aman dikonsumsi.
“Keamanan pangan tidak boleh dikompromikan. Seluruh SPPG wajib menjalankan SOP yang berlaku agar makanan yang disajikan kepada anak-anak terjamin keamanannya,” lanjutnya.
Hingga kini, Syukron menyatakan masih menunggu arahan BGN untuk pelaksanaan evaluasi. Sementara itu, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami ratusan siswa masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan pihak berwenang.













Komentar