RASIOO.id – Warisan budaya leluhur tak hanya perlu dikenalkan, tetapi juga dijaga agar tetap hidup di tengah generasi muda. Salah satunya melalui workshop pembuatan cenap, hiasan dari manisan buah yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa.
Kegiatan bertajuk “Warisan Budaya Leluhur: Pelestarian dan Inovasi Produk Tradisional Cenap bagi Generasi Muda” digelar di Great Western Resort, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, Minggu, 1 November 2026. Workshop ini diselenggarakan Yayasan Cide Benteng dengan dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Banten melalui fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (MPK).
Budayawan Tionghoa, Achonk Lim Hendra, menjelaskan bahwa cenap merupakan hiasan dari manisan buah yang digunakan sebagai persembahan kepada Tuhan atau dewa. Tradisi ini juga mengandung makna simbolis berupa doa dan harapan untuk meraih kesuksesan.
“Cenap itu sendiri artinya sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan atau kepada dewa sebagai simbolisasi kesuksesan,” ujar Achonk di sela-sela kegiatan.
Menurutnya, cenap khas Tangerang menggunakan tiga buah utama, yakni kingkit, pepaya, dan atep. Ketiganya memiliki makna berbeda yang saling melengkapi sebagai simbol doa dan harapan dalam kehidupan.
“Kingkit melambangkan tertib atau disiplin, pepaya artinya kejayaan atau kesuksesan, dan buah atep artinya langgeng, mantap, dan tetap. Jadi kalau kita mau sukses, perhatikan tiga buah tadi,” jelasnya.
Dalam workshop tersebut, peserta mempelajari proses pembuatan cenap, mulai dari mengolah buah hingga merangkainya menjadi berbagai bentuk hiasan. Buah-buahan yang digunakan terlebih dahulu diolah dengan gula sebelum dirangkai sesuai bentuk yang diinginkan.
“Buahnya itu dikolak dulu atau dibuat adonan dengan menggunakan gula. Setelah dimarinasi, baru dirangkai dengan berbagai macam bentuk,” ungkap Achonk.
Ia menjelaskan, cenap memiliki beragam bentuk, mulai dari cenap gendut, cenap Kongco duduk, hingga cenap mahkota. Selama ini, cenap lebih banyak digunakan sebagai perlengkapan persembahan dan belum diperjualbelikan secara luas.
Melalui workshop ini, masyarakat diharapkan dapat mempelajari teknik pembuatan cenap untuk keperluan persembahan di klenteng. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi upaya mengenalkan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Achonk menilai keterlibatan generasi muda penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi cenap di tengah perkembangan zaman. Ia berharap pengetahuan dan keterampilan yang dibagikan dalam workshop dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Makanya hari ini kita melaksanakan workshop cenap supaya bisa diteruskan pada generasi berikutnya, agar tradisi dan budaya ini menjadi langgeng. Itu harapannya,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mengenal cenap sebagai bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa Tangerang, tetapi juga memahami makna dan proses pembuatannya. Yayasan Cide Benteng berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan minat generasi muda untuk ikut menjaga warisan budaya leluhur agar tetap dikenal hingga masa mendatang.












Komentar