“Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.”
RASIOO.id – Kutipan legendaris dari WS Rendra ini terdengar seperti petir di siang bolong bagi para seniman yang sibuk cari konsep estetika tapi lupa bertanya: siapa yang sebenarnya sedang dibela?
Rendra, si Burung Merak itu, membacakan puisi Sajak Sebatang Lisong pertama kali pada 19 Agustus 1977 di ITB. Suaranya lantang, tidak hanya mengguncang auditorium, tapi juga menggugat nurani. Bayangkan, lebih dari empat dekade lalu, beliau sudah curiga terhadap seni yang terlalu sibuk berdandan tapi lupa bercermin pada realitas sosial.
Menurut Rendra, seni tidak boleh hanya jadi ornamen. Jangan cuma bicara soal rembulan dan anggur—sementara di luar panggung, rakyat mengantre minyak goreng dan terjebak banjir tahunan. Seni harus turun ke jalan, bersentuhan dengan debu kehidupan, dan mungkin, kalau perlu, ikut demo walau hanya bawa termos teh.
Seni, menurutnya, harus berpihak. Harus turun ke jalan, ikut merasakan derita, menyuarakan suara mereka yang tak terdengar, bahkan yang suaranya sumbang sekalipun—asal berasal dari rakyat.
Bagi Rendra, seniman bukan orang yang hidup di “menara gading” sambil menyeruput kopi dan berdiskusi tentang eksistensialisme, tapi harus hidup di tengah masyarakat.
Sayangnya, empat dekade sejak Rendra menggeram lewat lisongnya, dunia kesenian kita seperti terlempar keluar dari orbit pembangunan. Sekarang, kesenian ibarat tanaman hias di ruang tamu—boleh dilihat, tapi jangan diharapkan hidup mandiri.
Kesenian kita seolah-olah hanya “dimainkan” untuk melestarikan kenangan masa lalu di tengah situasi yang sudah jauh berubah.
Baca Juga: Kata Temanku, Gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Lebih Cocok untuk Perokok
Makin ke sini, seni kita justru sering dijadikan pajangan. Ia muncul sekilas dalam acara seremonial—dibuka dengan tari-tarian, ditutup dengan foto bersama. Yang penting ada hiburan. Urusan makna? Nanti dulu.
Kesenian hari ini lebih sering tampil di brosur acara seminar atau lomba 17-an RW, lengkap dengan kalimat “penampilan seni oleh anak-anak kita”.
Di sekolah pun nasib kesenian makin mengenaskan. Mata pelajaran seni kalah pamor dibanding coding atau robotika. Anak-anak kini lebih tertarik membuat animasi digital daripada memainkan angklung.
Pendidikan karakter lewat seni? Waduh, itu PR besar. Pertama, karena materinya itu-itu saja: menggambar buah, menyanyi lagu wajib, dan menari dengan gerakan yang bahkan murid sendiri tak tahu maknanya. Kedua, karena tuntutan zaman katanya sudah menuju AI dan digitalisasi. “Ngapain belajar nari, toh nanti robot bisa juga!” begitu kira-kira pembenarannya.
Sanggar-sanggar kesenian pun banyak yang megap-megap. Biaya sewa gedung, listrik, dan konsumsi lebih besar dari pendapatan. Kalau tidak disubsidi oleh tekad dan cinta seni yang membara, mungkin sudah jadi kedai kopi.
Yang menyedihkan, para seniman juga ikut berubah. Yang kecil-kecil butuh ruang tampil, asal dihargai, meski dibayar dengan sekotak nasi dan ucapan “terima kasih ya, Mas, udah bantu meriahkan acara kami.” Sementara yang agak besar, belum tampil sudah tanya, “Job ini bayar berapa?”
Diskusi tentang seni sebagai alat pembangunan? Sudah lama tidak terdengar. Kita lebih sibuk membahas siapa yang viral di TikTok ketimbang siapa yang membuat karya yang menggugah nurani.
Padahal, seperti pesan Rendra: berkesenian yang terpisah dari derita lingkungan adalah kesenian yang kehilangan arah. Seperti menari di tengah kebakaran hutan tanpa peduli asapnya. Berpikir tanpa menyentuh masalah kehidupan? Itu seperti bikin riset tebal-tebal yang tak pernah dibaca, bahkan oleh pembuatnya sendiri.
Rendra mengingatkan kita bahwa seni seharusnya hadir sebagai suara. Bukan suara merdu semata, tapi suara yang menggugah. Yang bikin merinding bukan karena nada tinggi, tapi karena makna yang menghantam langsung ke jantung kenyataan.
Dan hari ini, di tengah banjir informasi, badai polusi, dan disrupsi di berbagai lini kehidupan, barangkali sudah waktunya kita bertanya lagi: apalah arti berkesenian, jika tidak ikut resah saat rakyat gelisah?
Simak rasioo.id di Google News









Komentar