RASIOO.OD – Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) di wilayah Kabupaten Bogor mulai menemui dinamika unik di lapangan. Di Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, para petugas sensus dilaporkan mengalami kesulitan untuk mendapatkan data akurat lantaran banyak warga yang enggan jujur mengenai jumlah pendapatan asli mereka.
Jamaludin, salah satu petugas lapangan SE2026 di Desa Sukamulya, membenarkan adanya fenomena psikologis masyarakat tersebut. Menurutnya, ketidakjujuran terkait nominal pemasukan menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pencacah jiwa saat ini.
“Dinamika yang kami hadapi di lapangan bermacam-macam. Ada warga yang tidak mau jujur soal pendapatannya, dan ada juga yang memang sangat sulit ditemui karena bekerja di luar wilayah desa,” ungkap Jamaludin, Kamis, 9 Juli 2026.
Dari Warung Kecil, Kontrakan, hingga Rumah Kosong Ikut Didata
Sensus Ekonomi merupakan agenda masif berskala nasional yang digelar rutin setiap 10 tahun sekali oleh Pemerintah. Pendataan terakhir dilakukan pada tahun 2016 lalu, dan tahun 2026 ini menjadi momentum krusial untuk memotret peta pergeseran kesejahteraan masyarakat pasca-satu dekade.
Jamal menjelaskan, demi mendapatkan visualisasi ekonomi yang utuh, ruang lingkup pendataan dilakukan secara menyeluruh tanpa tebang pilih.
- Sektor Usaha: Mencakup seluruh tempat usaha, mulai dari toko kelontong, warung kelontong, hingga industri rumahan (home industry).
- Sektor Domestik: Mendata profil keluarga yang tinggal di rumah pribadi maupun warga yang menghuni rumah kontrakan.
- Rumah Kosong: Tetap diverifikasi dan didata guna memetakan aset properti serta perkembangan tata ruang ekonomi di lingkungan RT setempat.
Setiap kepala keluarga akan dianalisis secara mendalam melalui dua indikator utama, yaitu nominal pengeluaran bulanan dan sumber pendapatan masukannya.
Kejar Target Akhir Agustus Berbasis Sistem Online
Berbeda dengan dekade sebelumnya, SE2026 kali ini mengandalkan pemutakhiran teknologi. Sistem pendataan sepenuhnya beralih menggunakan metode berbasis online, di mana setiap data yang dijaring di lapangan langsung diinput ke dalam sistem pusat secara real-time.
Para petugas lapangan sendiri telah mengantongi kontrak kerja sejak tanggal 15 Juni 2026 lalu dan ditargetkan harus menyelesaikan seluruh beban kerja pada akhir Agustus 2026 mendatang.
Meski dihadapkan pada aksi tutup mulut warga terkait isi dompet mereka, Jamaludin menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pendekatan persuasif demi menyukseskan satu dekade data ekonomi Indonesia.
“Target pendataan ini harus rampung akhir Agustus. Kami akan berupaya semaksimal mungkin dengan turun langsung ke masyarakat agar data makro ekonomi tahun ini bisa selesai dengan valid,” pungkas Jamal.















Komentar