RASIOO.id – Berawal dari keprihatinan melihat persoalan sampah di lingkungan permukiman, sekolah hingga pelaku UMKM, Bank Sampah Bersih Istiqomah (GSBI) di Kelurahan Kedung Jaya, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, perlahan tumbuh menjadi gerakan lingkungan yang melibatkan masyarakat lintas wilayah.
Berdiri sejak 2019 di Jalan Pelita Jaya II RT 03 RW 08 Nomor 41A, GSBI membawa cita-cita besar untuk mewujudkan Kelurahan Kedung Jaya menuju zero sampah.
Namun, di tengah perkembangan dan semakin banyaknya masyarakat yang menjadi nasabah, bank sampah tersebut kini menghadapi persoalan serius, yakni keterbatasan lahan untuk operasional.
Ketua GSBI, Eryani, mengatakan bank sampah yang dikelolanya bermula dari kepedulian terhadap kondisi lingkungan ketika dirinya masih menjabat sebagai Ketua RW 08.
“Bank Sampah ini mulai berdiri pada tahun 2019,” ujar Eryani, Jumat, 29 Agustus 2026.
Ia mengungkapkan, gagasan mendirikan bank sampah muncul karena dirinya melihat persoalan sampah yang belum tertangani secara optimal di lingkungan masyarakat.
“Latar belakangnya berasal dari keprihatinan saya saat masih menjabat sebagai Ketua RW 08. Saya terdorong untuk membenahi masalah sampah yang ada di lingkungan pemukiman, sekolah, hingga UMKM sekitar,” tuturnya.
Perjalanan GSBI ternyata tidak langsung berjalan mulus. Saat sosialisasi pertama, dari sekitar 550 kepala keluarga (KK) yang diundang, hanya 18 orang yang datang.
Jumlah itu bahkan sempat berkurang menjadi 12 orang pada pertemuan berikutnya.
Meski demikian, Eryani memilih bertahan. Dengan pendampingan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta dukungan melalui Surat Keputusan (SK) dari kelurahan, aktivitas GSBI perlahan berkembang.
Hasilnya mulai terlihat. Nasabah GSBI kini tidak hanya berasal dari lingkungan RW setempat, tetapi sudah merambah hingga lintas kecamatan bahkan lintas kota dan kabupaten.
Pertumbuhan tersebut tercermin dari volume sampah yang berhasil dikumpulkan.
Pada penimbangan perdana Oktober 2019, GSBI hanya mampu mengumpulkan sekitar 18 kilogram sampah. Sebulan kemudian, jumlahnya meningkat drastis menjadi 112 kilogram.
Lonjakan yang jauh lebih besar terjadi setelah aktivitas masyarakat kembali menggeliat pada pertengahan 2020.
“Di mana sampah yang terkumpul saat dibuka kembali mencapai 1,3 ton,” ungkap Eryani.
Tak Sekadar Menjual Sampah
GSBI tidak hanya mengumpulkan sampah untuk kemudian dijual kepada pengepul. Pengurus bersama masyarakat juga melakukan pemilahan dan mengembangkan berbagai inovasi pengolahan sampah.
Untuk sampah anorganik, masyarakat memilah plastik, kertas, logam, beling hingga minyak jelantah. Sampah tersebut kemudian disetorkan oleh nasabah melalui sistem tabungan sampah.
Sementara sampah organik diolah dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan, antara lain melalui pembuatan lubang biopori dan eko-enzim.
Bahkan, GSBI memiliki Bank Eko-Enzim yang berada di bawah naungan Eko-Enzim Nusantara.
Dari proses tersebut, sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai justru diubah menjadi berbagai produk bernilai guna.
“Dari eko-enzim dan minyak jelantah, kami membuat berbagai produk sabun organik seperti sabun cuci baju, cuci piring, cuci tangan, pembersih lantai, sabun mandi, hingga sabun wajah,” jelasnya.
Tak berhenti di sana, GSBI juga mengembangkan sejumlah produk lain seperti bantal terapi eko-enzim, pupuk, penyerap udara kotor dari ampas eko-enzim, hingga lilin cenderamata berbahan minyak jelantah.
Bagi Eryani, kegiatan tersebut bukan semata-mata soal mengurangi sampah. Lebih jauh, GSBI ingin mengubah kebiasaan masyarakat sejak dari rumah.
“Visi utama kami adalah mengedukasi warga agar mengubah pola pikir dan perilaku pemilahan sampah dari rumah demi mewujudkan Kelurahan Kedung Jaya yang zero sampah,” katanya.
Pengurus 13 Orang, Lahan Masih Menumpang
Saat ini operasional GSBI dijalankan oleh 13 orang pengurus. Hasil penjualan sampah kepada pengumpul digunakan untuk mengembalikan tabungan milik nasabah sekaligus membiayai kebutuhan operasional bank sampah.
Namun, perkembangan GSBI justru berhadapan dengan persoalan baru.
Ketersediaan lahan.
Aktivitas pengelolaan sampah hingga saat ini masih memanfaatkan area rumah maupun lahan sementara. Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala terbesar bagi GSBI untuk mengembangkan kegiatan secara lebih maksimal.
“Kendala terbesar kami saat ini adalah lahan operasional yang masih menumpang di area rumah atau lahan sementara,” ujar Eryani.
Karena itu, pengurus GSBI kini tengah mengupayakan adanya lahan khusus yang dapat digunakan untuk kegiatan bank sampah secara berkelanjutan.
“Saat ini kami sedang mengupayakan pengajuan lahan khusus ke pihak Kelurahan dan DLH,” katanya.
Harapannya, dukungan lahan tersebut dapat menjadi langkah penting untuk memperkuat keberadaan GSBI sekaligus memperluas edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat.
Sebab bagi Eryani, cita-cita menjadikan Kedung Jaya sebagai wilayah zero sampah tidak cukup hanya dengan mengumpulkan sampah.
Perubahan harus dimulai dari rumah, kemudian tumbuh menjadi gerakan bersama.
Dari hanya 18 kilogram pada penimbangan pertama, kini GSBI telah membuktikan bahwa kepedulian kecil masyarakat dapat berkembang menjadi gerakan lingkungan yang jauh lebih besar.
Kini, yang mereka butuhkan bukan sekadar semangat, tetapi juga ruang untuk terus bergerak.















Komentar