RASIOO.id – Fenomena calon anggota legislatif milenial yang dibangga-banggakan partai politik (parpol) menarik perhatian Pengamat Politik yang juga Dosen Universitas Indonesia, Ahmad Fauzi. Mantan Ketua KPU Kabupaten Bogor ini menyebut kalangan milenial terjun dalam dunia politik dapat dilihat dari dua perspektif.
Fenomena calon legislatif (Caleg) milenial nampak menjadi warna baru dalam kontestasi pemilihan legislatif (pileg) 2024 di Kabupaten Bogor.
Hampir semua partai politik (parpol) di Kabupaten Bogor memamerkan caleg milenialnya saat mendaftarkan calon-calon wakil rakyatnya ke KPUD Kabupaten Bogor.
Mereka memberikan slot tidak sedikit untuk para caleg milenial. Mulai dari 30 hingga paling banyak 70 persen yang diberikan partai politik di Kabupaten Bogor untuk peluang nyaleg para milenial.
Pengamat Politik Universitas Indonesia, Ahmad Fauzi mengomentari fenomena pencalegan milenial ini. Kata dia, ada dua perspektif fenomena baru itu.
“Pertama, dari sisi regenerasi, hal ini tentunya positif karena semakin banyak generasi muda yang masuk ke dalam Parpol, menghilangkan kekhawatiran akan defisitnya kader-kader muda Parpol yang akan melanjutkan tongkat estafet kepengurusan,” papar dia, Rabu 17 Mei 2023.
Baca Juga : Siap Hadapi Bonus Demografi, 70 Persen Caleg Hanura Bogor diisi Milenial
Hal tersebut, kata dia, sekaligus menghapuskan stigma bahwa politisi muda tidak mampu membawa mandat rakyat ke arah yang lebih baik.
“Menghapuskan pandangan politisnya generasi muda. Termasuk di dalam Pencalonan anggota legislatif, hal ini tentunya menunjukkan Parpol tidak hanya mencalonkan kader-kader senior saja namun juga kader-kader mudanya,” jelas dia.
Kendati demikian, dicalonkannya generasi muda dalam kontestasi Pileg merupakan strategi politik Parpol untuk mendulang sebanyak-banyaknya suara anak muda.
“Pada perspektif lainnya saya melihat parpol realistis dengan segmentasi pemilih yang akan didominasi oleh kelompok muda milenial maupun zilenial, 55-60 persen menurut Komisioner KPU, August Mellaz,” papar dia.
“Untuk dapat menarik suara mayoritas tersebut, tentu dengan mencalonkan caleg yang seusia diharapkan dapat memperoleh banyak suara,” lanjut Fauzi.
Dari dua perspektif tersebut, ia melihat dominasi Parpol lebih kepada kepentingan suara semata, bukan karena kemampuan politisi muda untuk bisa duduk di kursi parlemen dan menjadi seorang wakil rakyat yang diharapkan masyarakat.
“Keterlibatan para Caleg milenial ini saya melihat lebih pada kepentingan parpol untuk mendulang suara pemilih muda. Sehingga, tugas besar bagi parpol untuk mampu menyiapkan Caleg milenialnya tersebut agar mampu menjalankan perannya ketika nanti menjadi wakil rakyat,” tutup dia.















Komentar