I’TIKAF DI BULAN RAMADHAN

RASIOO.id– Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah dan istimewa dibanding bulan-bulan lain bagi umat Islam. Oleh karenai tu ,umat Islam dianjurkan untuk bersemangat dan bersungguh-sunguh mencari keuntungan dan keuatamaan beribadah di bulan Ramadhan. Di antara rangkaian ibadah yang dikerjakan dalam bulan itu adalah i’tikaf.

Dalam pengertian bahasa i’tikaf  berarti berdiam diri yakni, tetap di atas sesuatu. (al-Lubtsuwamulazamatuas-Syai). Sedangkan dalam pengertian syari’ah, bermakna berdiam diri di masjid dengan niat mendekat diri (taqarub) kepada Allah SWT.

I’tikaf  merupakan perbuatan ibadah yang bisa dikerjakan setiap waktu, tidak hanya dikenal pada hari-hari di bulan Ramadhan. Hal ini dijelaskan dalam keumuman firman Allah SWT :

“Dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istri kalian) itu, sedang kalian beri’tikaf di dalam masjid-masjid.”(QS. Al-Baqarah [2]: 187)Dengan datangnya bulan suci Ramadhan, i’tikaf merupakan ibadah yang sangat diutamakan.lebih dikhususkan lagi sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr. Dalam hal ini,  Ibnu Umar r.a.berkata, Rasulullah saw biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.” (HR.Bukharidan Muslim).

Akan tetapi, pada tahun wafatnya, Beliau melakukan i’tikaf selama 20 hari, yaitu 10 hari pertengahan dan 10 hari akhir bulan Ramadhan.

Wahbahaz-Zuhaily dalam fiqhu al-Islam waAdilatuh, menjelaskan i’tikaf dimaksudkan.

Pertama,  membersihkan hati dengan mendekat diri kepada Allah SWT. Kedua, menghentikan aktivitas  keduniaan pada waktu-waktu tertentu semata-mata untuk ibadah kepada-Nya.

Ketiga, terus menerus melakukan ibadah di masjid, sehingga bisa lebih mudah untuk memerangi hawa nafsunya, karena masjid adalah tempat beribadah dan membersihkan  jiwa.

Keempat menunggu saat-saat yang baik untuk turunnya Lailatul Qadar  yang nilainya sama dengan ibadah seribu bulan.

Dan kelima, menghidupkan sunnah sebagai kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. dalam rangka pencapaian ketakwaan hamba.

Sesuai dengan tujuan pokok dari i’tikaf, mendekat diri kepada Allah SWT, makamu’takif (orang yang i’tikaf) dianjurkan untuk memperbanyak ibadah.

Seperti, tadarus Qur’an, bertasbih, beristighfar, bertahmid, shalat sunat, berdoa dan bermuhasabah (intropeksidiri), bahkan mengkaji dan mendalami ilmu agama juga bagian dari ibadah di dalami’tikaf.

Yang terpenting  lagi bagi mu’takif  hendaknya menghindari dari segalahal yang tidak ada manfaatnya baik perbuatan maupun ucapan. Sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW :

“diantara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan sesuatu yang tidak ada manfaatnya (HR. TirmidzidanIbnuMajjah).

Dengan konteks i’tikaf ini, diharapkan keluar dari bulan suci Ramadhan mampu membawa hasil yang riil terhadap perubahan budi pekerti bagi para mu’takif di Indonesia dalam kehidupan kesehariannya.

Sehinga negeri ini dikelola oleh para pemimpin yang  i’tikaf (umarau al-mu’takifin) menuju negeri yang makmur dan sejahtera, serta di ridhai Allah SWT.  (baldatunthayyibatunwarabbunghafur). Amin. Wallahu’alambishowab

Wakil Ketua PCNU Kota Bogor

H. Moh. Romli

 

 

Komentar