RASIOO.id – Iqra’ atau bacalah adalah ayat pertama dari Al-Qur’an yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat tersebut disampaikan oleh Malaikat Jibril as kepada Nabi Muhammad SAW, saat nabi sedang berkontemplasi di Gua Hira. Para ulama menjelaskan peristiwa tersebut terjadi pada bulan suci Ramadan, tahun 610 Masehi.
Baca Juga : Al Qur’an Turun Malam Lailatul Qodar Kenapa Nuzulul Qur’an diperingati 17 Ramadan? Ini Penjelasan Ulama
Iqra’ dimaknai pada ahli tafsir dengan sangat mendalam. Cendekiawan Muslim Indonesia Prof HM Quraish Shihab memaknai iqra’ pada kata pertama Surat Al-Alaq yang berarti bacalah. Makna membaca dalam ayat ini tidak hanya membaca teks saja yang menyertakan tulisan. Membaca tidak harus dari sesuatu yang tertulis dalam bentuk aksara-aksara.
“Membaca surat Al-Fatihah sewaktu shalat tidak menyertakan tulisan atau kertas di depannya. Mengucapkan sesuatu yang terhimpun di dalam benak baik terdengar orang lain maupun hanya didengar oleh benak maka itu adalah membaca,” tutur Prof Quraish dalam tayangan YouTube Quraish Shihab.
Baca Juga : Kisah Nabi Muhammad Menerima Wahyu Pertama Menurut Kyai NU
Prof Quraish menjelaskan, iqra’ awalnya terambil dari kata qara’a yang biasa diterjemahkan dengan membaca. Qara’a yang diartikan membaca itu pada mulanya berarti menghimpun. Jika diteliti bahwa membaca hakikatnya adalah menghimpun. Kata membaca secara umum diartikan dengan melihat suatu teks untuk diucapkan.
“Tetapi, anehnya Nabi Muhammad saw tidak pandai membaca dalam arti melihat teks. Dalam riwayat disebutkan Nabi dipeluk Malaikat Jibril dan disuruh membaca. Beliau menjawab tidak bisa membaca,” terangnya.
“Bahkan, sampai diutus untuk membaca hingga 3 kali. Lantas, Nabi berkata apa yang harus dibacanya? Kemudian malaikat melanjutkan dengan berkata, bacalah demi Tuhanmu yang memelihara kamu,” sambung doktor jebolan Universitas Al-Azhar Mesir ini.
Prof Quraish menambahkan, ketika Tuhan memerintah Nabi untuk membaca tidak lah disebutkan objeknya. Karena Tuhan memerintahkan untuk membaca apa saja, tetapi kaitkan bacaan tersebut dengan niat memperoleh bantuan Tuhan.
Menurut Prof Quraish, para pakar untuk mencapai kemajuan dalam membangun peradaban diperlukan seseorang yang banyak membaca. Membaca bukan hanya dari sesuatu yang tertulis, tetapi segala sesuatu yang dapat dilihat itu hendaknya dapat dibaca.
“Ketika memandang raut muka seseorang dapat terlihat jika ia marah. Bisa juga memperhatikan alam raya dapat digunakan untuk membaca alam.
Jika ingin maju dan membangun peradaban, maka bacalah dalam arti pandanglah sesuatu, pelajari, dan tariklah kesimpulan dari apa yang dilihat dan dibaca,” terangnya. (*)
Editor : Ramadhan









![IMG-20230327-WA0050 Umat Muslim saat melaksanakan salat tarawih di Masjid Baitul Faizin Bogor [Selo/RASIOO]](/wp-content/uploads/2023/03/IMG-20230327-WA0050-1024x682.jpg)




Komentar