Kerja-kerja elektoral caleg petahana di daerah pemilihan (dapil) 2 Kota Tangerang teramat loyo. Enam petahana tumbang dalam perebutan delapan kursi di dapil itu. Mereka kalah dengan caleg bukan petahana dengan selisih perolehan yang berjarak “renggang”.
Derita paling dalam dialami PPP. Partai Kakbah itu kehilangan kursi se-matawayang. Kursi itu diboyong anak buah Surya Paloh, Partai NasDem.
RASIOO.id – Enam petahana yang gagal bertahan berasal dari PDIP dua orang, dan masing-masing satu dari PKB, Golkar, Demokrat, dan PPP.
Agar lebih jelas, dua petahana dari Partai Banteng Moncong Putih itu, namanya Santa dan Epa Emilia. Mereka akan digantikan oleh Teja Kusuma yang meraih 6.659 suara dan Veri Montana 5.346 suara.
Santa yang “pontang-panting” dapat 5.103 suara, kalah tipis dari Veri. Selisihnya 243 saja. Sedangkan Epa Emilia, angka perolehannya jauh kemana-mana. Epa cuma dapat sedikit, 2.564 suara. Santa dan Epa, gagal, meski bermodal caleg petahana.
Petahana gagal dari PKB, Mustaya Hasyim. Mustaya yang sudah menuju tiga periode jadi anggota dewan itu kalah dengan jarak selisih suara yang bikin mata terbelalak.
Mustaya hanya dapat 2.826 suara. Jumlah itu kecil sekali jika banding perolehan Hafidz Firdaus yang memenangkan pertarungan. Hafidz dapat 10.185 suara. Bukan main banyak selisihnya, 10.185 – 2.826 = 7.359.
Kalau dibanding perolehan suara dengan semua caleg petahana di dapil itu, Hafidz juaranya. Termasuk dengan perolehan 3 caleg petahana yang kembali melenggang, Samsuni (Golkar) 7.732 suara, Syamsuri (PKS) 3.570 suara, dan Apanudin (Gerindra) 5.698 suara.
Bergeser ke Partai Golkar, Mulyadi petahana yang ada di barisan caleg kalah. Kursinya sebentar lagi akan berpindah ke Samsuni yang menyingkirkan Mulyadi dengan selisih 4.438 suara. Mulyadi dapat 7.732 suara, sedangkan Samsuni, itungannya, suara Mulyadi 7.732 diambil selisih 4.438, sama dengan 3.294. Perolehan Samsuni 3.294 suara, gak kurang gak lebih. titik!
Drama “Korea” di Demokrat dan PPP
Sementara di Partai Demokrat, Ade Suryadi dibarisan petahana kalah. Ade dikalahkan caleg petahana yang nyeberang dari PPP ke Demokrat, Mulyadi H Muslih namanya. Kalau dalam istilah “beken” Bambang Pacul, dua mereka itu sama-sama “korea” yang gak akan mau turun.
Kalau ditelisik agak dalam, Ade Suryadi sudah kalah dalam penentuan urut-urutan “nomor punggung”. Ade yang petahana “Asli” partai Merci dikasih nomor urut 4. Sementara Mulyadi yang baru “ganti baju” (bukan petahana palsu.red) langsung dikasih nomor urut 1.
Di tempat coblosan, Ade mengalami kekalahan yang “kedua” dari Mulyadi. Ade Suryadi hanya mendapat 1.321 suara pemilih, jauh dari yang diperoleh Mulyadi H Muslih 3.592 suara.
Tapi rupanya saingan Ade Suryadi bukan cuma dengan Mulyadi yang terhitung baru di partai itu. Ade juga bersaing dengan Djenni Sasmita “stok lama” yang meraih 3.294 suara.
Jadi, yang lebih pantas dilabeli istilah pertarungan sengit di tubuh Demokrat, bukan Mulyadi dengan Ade Suryadi, tapi Mulyadi versus Djenni. Lihat saja selisih perolehan suara mereka bertiga!
Sementara PPP menderita tiada kira. Mustopa gagal mempertahankan kursi “give away” dari Mulyadi yang hijrah ke Demoktat. Dia melengkapi daftar petahana yang gagal di dapil 2, jadi enam jumlahnya.
PPP hanya dapat total perolehan 5.675 suara. Mustopa, Sekjen DPC PPP Kota Tangerang yang maju sebagai petahana di Dapil itu cuma dapat 2.125 saja. PPP tereleminasi dari dapil 2. Kekalahan PPP nampaknya melengkapi “kepuasaan batin” Mulyadi H Muslih yang kini bakal jadi anggota dewan lagi, lewat Partai Demokrat.
Baca Juga : Hasil Pileg DPR RI Dapil Banten 3 : Airin Kalahkan Semua Caleg Petahana, PDIP Kehilangan Satu Kursi
Terlepas soal drama “korea” Demoktat dan PPP, Partai NasDem menambah “ajeg” tren positif di Pemilu kali ini. Kursi PPP yang raib, kini milik NasDem. NasDem meraih barisan kursi keenam jatah dapil itu. Kursi tersebut dibarter dengan 12.794 suara hasil “kumpulan” perolehan caleg dan coblosan pemilih ke arah logo dan nomor partai.
Holiludin yang meraih 3.630 suara, senang bukan kepalang karena akan jadi anggota dewan. Soalnya, caleg lain internal partainya tak ada yang dapat suara lebih dari itu. Agak mepet, dengan Nawawi caleg nomor 4 yang meraih 3.438 suara. Jumlah selisih kurang 192 dengan Holiludin, caleg urutan 1.















Komentar