RASIOO.id – Ahmad Toyib (40) baru saja menata mainan anak-anak dagangannya di Alun-Alun Kota Bogor. Kamis pagi itu, 27 Juni 2024, matahari baru saja meninggi dan jam digital di smartphone Toyib sudah menunjukkan pukul delapan lewat 15 menit.
Toyib, warga Cilubang Tonggah, Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, adalah salah satu pedagang kaki lima (PKL) di Alun-Alun itu. Setiap hari, dagangannya “nangkring” di samping trotoar, tempat yang seharusnya digunakan untuk pejalan kaki. Sudah dua tahun Toyib menjadi “bunga trotoar”, selalu waspada terhadap petugas yang mungkin datang mengusirnya.
“Saya sudah dua tahun dagang di sini, sudah bosan diusir atau bentrok sama petugas Satpol PP,” kata Toyib kepada wartawan Rasioo.id, Kamis 27 Juni 2024.
Baca Juga: Alun-Alun Kota Bogor Semrawut Karena PKL dan Parkir Liar, Begini Respon Kadishub
Toyib sadar bahwa lapak yang ia gunakan adalah area terlarang untuk PKL. Namun, kebutuhan hidup untuk menafkahi keluarganya membuatnya tetap berdagang di sana. Bagi Toyib, memastikan anak dan istrinya bisa makan serta anak-anaknya bisa bersekolah adalah prioritas utama.
“Yang penting halal,” ucap Toyib sambil tersenyum.
Meski demikian, Toyib tidak merasa nyaman berdagang dengan rasa ketakutan. Ia berharap bisa berdagang di tempat yang “halal” alias tidak dilarang. Menurut Toyib, pendapatan PKL seperti dirinya tidaklah besar. Bahkan, untuk menebak berapa penghasilannya setiap hari pun sulit. Tidak ada kepastian, berbeda dengan penjumlahan angka dalam matematika.
“Ga pasti kang, saya buka jam 8 pagi tutup bisa sampe jam 10 malam, kalo lagi rame biasanya weekend tuh alhamdulillah bisa dapet Rp200 ribu. Tapi kalo hari biasa nyari duit Rp100 ribu pun ga pasti,” ungkapnya.
Pendapatan tersebut tidak semuanya bisa digunakan untuk kebutuhan keluarga, sebagian harus dialokasikan untuk modal dagang. Jika tidak, usaha Toyib bisa gulung tikar. Selain itu, ada iuran kebersihan dan keamanan yang harus dibayar, sebuah kenyataan yang sulit dihindari oleh para pedagang.
Toyib berharap Pemerintah Kota Bogor dapat mencarikan tempat yang layak bagi para PKL seperti dirinya, tempat yang ramai pengunjung dan bebas dari gangguan petugas.
“Yang saya tahu, pihak pemkot sudah memiliki rencana untuk merelokasi kami, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ujarnya.
Toyib menyebut Pemkot Bogor sudah memetakan lokasi relokasi untuk para pedagang di Alun-Alun ke tempat baru, seperti area masjid, dekat Skybridge, dan sebagian di tengah taman. Namun, hingga kini belum ada realisasi.
“Kami para pedagang sudah dipetakan, di area masjid, dekat Skybridge, dan sebagian di tengah taman. Tapi sampai sekarang belum ada realisasi. Seperti hanya janji semata saja,” tutupnya.
Simak rasioo.id di Google News











Komentar