RASIOO.id –Senyum tenang Purbaya Yudhi Sadewa saat dilantik Presiden Prabowo Subianto awal September 2025 menandai babak baru bagi perjalanan karier panjangnya. Nama Purbaya sebelumnya lebih sering terdengar di ruang-ruang rapat lembaga keuangan, forum akademik, hingga bursa saham. Kini, ia duduk di kursi Menteri Keuangan, menggantikan Sri Mulyani, dengan segudang ekspektasi dan sorotan pasar global.
Baca Juga: Respons Jokowi Menteri Keuangan Diganti: Beda Mazhab Sri Mulyani dengan Purbaya
Jejak Akademik: Insinyur yang Menyebrang ke Ekonomi
Lahir di Bandung, 7 Juli 1964, Purbaya memulai karier intelektualnya di jalur yang tak lazim bagi seorang menteri keuangan. Ia kuliah di Teknik Elektro ITB, disiplin yang membentuk ketelitian analitisnya. Namun kemudian, arah hidup membawanya ke Amerika Serikat. Di Purdue University, ia meraih gelar Master dan Doktor di bidang Ekonomi. Perpaduan dunia teknik dan ekonomi inilah yang melahirkan pendekatan khas: kombinasi logika matematis dengan sensitivitas kebijakan publik.
Dari Pasar Modal ke Birokrasi
Usai meraih gelar doktor, Purbaya pulang ke tanah air dan langsung bersentuhan dengan sektor keuangan. Ia pernah menjabat Direktur Utama Danareksa, salah satu BUMN keuangan tertua, lalu menakhodai Danareksa Sekuritas. Dunia pasar modal yang fluktuatif melatihnya membaca sinyal ekonomi, bukan sekadar angka.
Namun, kariernya tidak berhenti di ruang bisnis. Purbaya juga berkecimpung di pemerintahan: sempat menjadi deputi di Kemenko Kemaritiman, lalu dipercaya Presiden Jokowi memimpin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada 2020. Di LPS, Purbaya dikenal vokal menjaga stabilitas perbankan di tengah badai pandemi. Reputasinya sebagai teknokrat yang “hands on” pun makin menonjol.
Mazhab Ekonomi Purbaya: Pragmatis Pro-Pertumbuhan
Jika Sri Mulyani identik dengan disiplin fiskal dan citra teknokrat global, maka Purbaya hadir dengan mazhab yang berbeda. Ia condong pada pragmatisme pro-pertumbuhan.
Purbaya sering menekankan perlunya investasi domestik dan daya beli masyarakat sebagai motor ekonomi. Baginya, pertumbuhan yang lebih cepat—sekitar 6 persen dalam jangka menengah—merupakan pintu untuk membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan. Namun, dengan latar belakang di LPS, ia juga paham rapuhnya sistem keuangan jika kebijakan fiskal terlalu longgar.
Maka, mazhab Purbaya dapat dirangkum dalam dua kata: “dorong pertumbuhan, jaga stabilitas.”
Arah Kebijakan: Dari Fiskal ke Lapangan
Sejumlah sinyal awal kebijakan mulai terbaca sejak ia resmi menjabat. Purbaya nampaknya, ingin membuka ruang fiskal lebih besar untuk mendukung program sosial dan infrastruktur.
Insentif fiskal untuk investasi domestik agar modal dalam negeri tak lari ke luar. Salah satu program yang ia cetuskan baru-baru ini, menarik dana Rp200 triliun untuk dikucurkan kepada perbankan.
Langkah ini juga bagian dari penguatan komunikasi pasar, demi meredam kecemasan investor setelah pergantian kepemimpinan.
Purbaya berpandangan, target realistis, yakni pertumbuhan di kisaran 6 persen, sambil menegaskan bahwa ambisi 8 persen bukan perkara instan.
Tantangan: Menjawab Pasar, Menjawab Rakyat
Pasar modal bereaksi cepat: kurs rupiah sempat goyah, investor asing mencermati kebijakan baru. Purbaya dihadapkan pada dilema klasik: menjaga kredibilitas fiskal sekaligus memenuhi janji politik pemerintahan. Ia harus menjawab dua audiens sekaligus—para pemegang obligasi internasional, dan masyarakat di desa-desa yang menunggu harga beras lebih murah.
Kini, Purbaya berdiri di persimpangan sejarah. Dari ruang kuliah di Purdue hingga gedung Danareksa, dari meja rapat LPS hingga kantor Kemenkeu, perjalanan panjangnya mempersiapkannya untuk momen ini. Mazhab ekonomi Purbaya mungkin belum sepenuhnya terbaca, tetapi arah dasarnya jelas: pertumbuhan yang inklusif, dengan stabilitas sebagai jangkar.
Seperti ia pernah berkata, “Indonesia punya peluang besar, tapi kita harus pandai mengelola kecepatan laju agar tidak kehilangan keseimbangan.”
Dan kini, seluruh negeri menunggu, sejauh mana janji keseimbangan itu bisa ia wujudkan.
Simak rasioo.id di Google News











Komentar