RASIOO.id – Suasana berbeda terlihat di kawasan Skate Park Sempur, Kota Bogor, Sabtu malam, 16 Mei 2026. Ratusan warga dari berbagai komunitas dan organisasi masyarakat memadati area tersebut untuk mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul Pesta Babi yang belakangan menjadi sorotan publik karena disebut tidak lolos sensor.
Acara yang dimulai sekitar pukul 19.30 WIB itu berlangsung penuh antusiasme. Pantauan di lokasi menunjukkan penonton terus berdatangan hingga area nobar dipenuhi lebih dari 200 orang. Film berdurasi sekitar satu jam tiga puluh menit tersebut ditonton dengan serius oleh para peserta yang mayoritas merupakan anak muda dan aktivis komunitas.
Tak hanya sekadar menonton, panitia juga menerapkan sejumlah aturan ketat demi menjaga keamanan selama acara berlangsung. Seluruh penonton diperiksa sebelum memasuki area nobar untuk memastikan tidak membawa obat-obatan terlarang maupun senjata tajam.
Melalui unggahan akun Instagram @pemerintahankontem, panitia juga mengingatkan para peserta untuk menjaga kebersihan serta saling menghormati satu sama lain selama kegiatan berlangsung.
Salah satu panitia kegiatan, Rafi, mengatakan bahwa informasi mengenai nobar disebarkan secara terbatas dan mendadak kepada orang-orang terdekat maupun pengikut media sosial mereka.
“Yang hadir ada beberapa masyarakat, organisasi masyarakat, perkumpulan, dan teman-teman dari media sosial juga,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan serupa sebenarnya digelar di dua titik wilayah Bogor Raya. Namun satu lokasi di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, disebut dibubarkan oleh aparatur setempat sebelum acara berlangsung.
“Sebenernya ada dua titik. Yang di Rumpin dibubarkan, tapi yang di Sempur ini berjalan lancar,” katanya.
Rafi menjelaskan, tingginya minat masyarakat mengikuti nobar karena banyak yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai realitas sosial di Papua yang diangkat dalam film tersebut.
“Mereka pengen membuka pemikiran juga tentang Papua dan melihat realitas yang terjadi di masyarakat sana,” ucapnya.
Ia mengakui film yang diputar belum berstatus legal karena tidak lolos sensor. Meski demikian, panitia tetap memilih menggelar pemutaran secara terbatas dan hati-hati agar acara dapat berjalan aman.
“Belajar dari pengalaman sebelumnya, lokasi dan informasi acara baru diumumkan mendekati jam mulai,” tambahnya.
Usai pemutaran film, suasana berubah menjadi forum diskusi terbuka. Para penonton diajak berbincang mengenai isi film, kondisi sosial di Papua, hingga kebebasan berekspresi di ruang publik.
Tak berhenti di situ, panitia juga membuka donasi sukarela dari para penonton yang nantinya disebut akan disalurkan untuk masyarakat Papua melalui sejumlah lembaga dan yayasan kemanusiaan.
“Penonton yang pulang kita minta donasi seikhlasnya, dan banyak yang ikut membantu,” tutur Rafi.
Kegiatan nobar tersebut berlangsung hingga malam hari dengan pengamanan internal dari panitia dan tetap berjalan kondusif hingga acara selesai.















Komentar