RASIOO.ID – Harapan untuk kembali bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) justru berubah menjadi pengalaman pahit bagi W (36), warga Kelurahan Sindangbarang, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Pria yang telah bertahun-tahun bekerja di dunia pelayaran itu menjadi korban dugaan penipuan lowongan kerja yang beredar melalui media sosial Facebook.
Tak sendiri, W bersama dua rekannya, IE (27) dan RP (16), diduga menjadi korban perusahaan fiktif. Ketiganya mengaku sempat disekap dan diminta menyerahkan sejumlah uang sebelum akhirnya diizinkan pulang.
Yang mengejutkan, W bukanlah orang baru di dunia pelayaran. Ia telah memiliki pengalaman sebagai ABK sejak 2021 dan telah beberapa kali bekerja di kapal penangkap ikan.”Saya sebenarnya sudah berpengalaman. Ini bukan pertama kalinya saya bekerja menjadi ABK. Sejak 2021 saya sudah melaut,” ujar W saat ditemui di kediamannya, Selasa 4 Agustus 2026.
Sudah Lima Kali Melaut
W menceritakan, selama menjadi ABK dirinya telah mengikuti pelayaran ke berbagai wilayah, mulai dari perairan Kalimantan hingga Muara Baru, Jakarta.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami sistem kerja di kapal, termasuk mekanisme pembagian hasil, kasbon, hingga pembayaran gaji.”Saya sudah lima kali melaut ke berbagai tempat, dari Kalimantan sampai Muara Baru di Jakarta,” katanya.
Menurut W, perusahaan pelayaran yang resmi selalu memiliki sistem administrasi yang jelas, termasuk dalam pemberian kasbon kepada para pekerja.”Biasanya sistem pembagian hasil dan kasbonnya jelas,” tuturnya.
Ia menjelaskan, besaran kasbon umumnya sekitar Rp1 juta untuk kebutuhan perlengkapan selama bekerja. Setelah dipotong kasbon dan biaya operasional, seorang ABK masih dapat membawa pulang penghasilan bersih sekitar Rp3 juta hingga Rp4 juta setiap bulan.”Setelah dipotong pinjaman, biasanya saya membawa pulang sekitar Rp3 juta sampai Rp4 juta per bulan tanpa ada masalah seperti yang saya alami sekarang,” ungkapnya.
Tergoda Jalur Baru, Berujung Penipuan
Meski telah memiliki jaringan kerja yang terpercaya, W mengaku nekat mencari peluang baru melalui Facebook karena ingin segera kembali bekerja.Saat itu, rekan-rekannya yang biasa mengajaknya melaut masih berada di tengah laut dan baru dijadwalkan kembali pada Oktober mendatang.
Tak ingin menunggu terlalu lama, ia mencoba mencari agen penyalur kerja melalui media sosial. Keputusan itulah yang akhirnya membawanya menjadi korban dugaan penipuan.”Awalnya saya tidak berniat mencari agen baru. Tapi teman jaringan lama saya masih berada di laut sampai Oktober. Karena tidak sabar menunggu, saya mencoba mencari jaringan baru lewat Facebook,” ujarnya.
Alih-alih mendapatkan pekerjaan, W justru mengaku mengalami perlakuan yang tidak semestinya bersama dua rekannya.
Trauma, Namun Tetap Ingin Melaut
Peristiwa tersebut meninggalkan trauma yang cukup mendalam. Meski demikian, W menegaskan dirinya tidak kapok menjadi Anak Buah Kapal.Ia hanya bertekad untuk lebih berhati-hati dan memastikan seluruh proses perekrutan dilakukan melalui jalur resmi serta jaringan yang sudah dikenalnya.
Untuk sementara waktu, W berencana mencari pekerjaan di darat sambil menunggu rekan-rekannya kembali dari pelayaran.”Sekarang saya ingin mencari pekerjaan sementara di darat dulu. Nanti kalau teman jaringan lama sudah kembali dan sudah pasti terpercaya, saya akan melaut lagi,” tutupnya.
Kasus yang dialami W menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan yang beredar di media sosial tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Masyarakat diimbau memastikan legalitas perusahaan, alamat kantor, hingga proses rekrutmen sebelum menyerahkan dokumen pribadi maupun sejumlah uang kepada pihak yang mengaku sebagai penyalur tenaga kerja.














Komentar