12.675 Lulusan Perguruan Tinggi di Kota Tangerang Menganggur, Kadisnaker Buka Suara

RASIOO.id – Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah pengangguran berpendidikan tinggi di wilayah Tangerang Raya mencapai 20.878 orang. Dari angka tersebut, Kota Tangerang mencatat jumlah tertinggi dengan 12.675 orang.

Berdasarkan data tersebut, tingkat pengangguran terbuka (TPT) kelompok lulusan perguruan tinggi di Kota Tangerang mencapai 7,05 persen dari total 179.900 angkatan kerja berpendidikan tinggi.

Angka itu lebih tinggi dibandingkan Kota Tangerang Selatan yang tercatat 4.636 orang dan Kabupaten Tangerang sebanyak 3.567 orang.

Tingginya angka pengangguran berpendidikan tinggi tersebut turut menyoroti efektivitas program pelatihan kerja yang dijalankan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Tangerang.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Disnaker Kota Tangerang Ujang Hendra Gunawan mengatakan pihaknya terus menjalankan berbagai program untuk meningkatkan daya saing dan penyerapan tenaga kerja.

Menurutnya, program yang dijalankan tidak hanya menyasar pencari kerja, tetapi juga disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing kelompok.

“Untuk menciptakan yang menunjang dengan kepegawaian, kita adakan OJT (on the job training) atau magang industri. Untuk kegiatan yang menunjang kelangsungan mereka yang terkena PHK, kami kasih beberapa kegiatan seperti otomotif, servis AC. Jadi, segmen itu semuanya berbeda-beda,” kata Ujang kepada RASIOO.id, Jumat, 25 September 2026.

Ia menyebut sejumlah program lain yang dijalankan Disnaker di antaranya pelatihan content creator, kewirausahaan, serta peningkatan kompetensi yang menyasar generasi Z.

Ujang mengatakan upaya menekan pengangguran juga dilakukan melalui kerja sama dengan institusi pendidikan, dunia industri, serta Bursa Kerja Khusus (BKK).

Kerja sama tersebut diwujudkan melalui kegiatan job fair, program magang kerja atau OJT, hingga penempatan tenaga kerja ke luar negeri.

“Contoh, waktu saya pertama jadi kepala dinas (Disnaker) itu tingkat penganggurannya sembilan koma, jumlahnya sekitar 113.000 pengangguran. Selama saya menjabat, turun sampai akhirnya tinggal 5,8. Turunnya sekitar 60.000,” ujarnya.

Namun, Ujang juga mempertanyakan adanya perbedaan antara sejumlah data terkait kondisi lulusan pendidikan di Kota Tangerang.

Ia mencontohkan data BPS yang menurutnya menyebut lulusan SMK menyumbang sekitar 90 persen pengangguran terbuka. Sementara itu, data tracer study Dikdasmen mencatat sekitar 90 persen lulusan SMK telah bekerja.

“Makanya data itu hanya sebagai pembanding, bukan untuk dijadikan tolok ukur. Semua itu kan bicara side impact, semua bicara beberapa faktor,” tuturnya.

Menurut Ujang, persoalan pengangguran juga berkaitan dengan ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri atau skill mismatch.

Selain itu, perubahan pola kerja akibat perkembangan teknologi turut memengaruhi penyerapan tenaga kerja.

Di sisi anggaran, Ujang menilai efektivitas penanganan pengangguran tidak bisa dilihat hanya dari besarnya anggaran pelatihan yang tersedia.

“Harus berapa ratus miliar anggarannya untuk mengadakan sebuah pelatihan (untuk menurunkan angka pengangguran sebesar 60.000)? Kalau Rp3,9 miliar, hanya nol koma sekian persennya (dari total pencapaian turunnya angka pengangguran sebesar 60.000),” tegasnya.

Saat ditanya mengenai realisasi anggaran program pelatihan kerja dan produktivitas tenaga kerja, Ujang menyebut penyerapan anggaran dapat dilihat dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan Disnaker, salah satunya job fair.

“Untuk serapannya bisa dilihat dari penyerapan kegiatan yang kita lakukan seperti job fair,” kata Ujang.

Namun, anggaran job fair atau bursa kerja merupakan mata anggaran yang berbeda dengan program pelatihan kerja dan produktivitas tenaga kerja.

Berdasarkan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Disnaker Kota Tangerang Tahun Anggaran 2026, total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp28,60 miliar.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp21,21 miliar atau 74,16 persen dialokasikan untuk program penunjang urusan pemerintahan daerah. Anggaran tersebut antara lain digunakan untuk gaji dan tunjangan ASN sebesar Rp13,84 miliar serta penyediaan jasa pelayanan umum kantor sebesar Rp3,62 miliar.

Sementara itu, program pelatihan kerja dan produktivitas tenaga kerja mendapatkan alokasi Rp3,92 miliar atau sekitar 13,7 persen dari total anggaran Disnaker Kota Tangerang.

Adapun anggaran untuk kegiatan Job Fair atau Bursa Kerja tercatat sebesar Rp676,67 juta.

Komentar