Membaca Kitab, Membaca Zaman

Santri, tradisi keilmuan, dan tantangan menghadapi masa depan

 

RASIOO.id – Kitab-kitab tipis dengan kertas kekuningan bertumpuk di atas meja kecil. Sebagian lembarannya mulai lusuh, bahkan menghitam di bagian tepi. Ada bekas lipatan, noda, dan jejak tangan yang bercampur keringat pemiliknya. Kitab-kitab itu menemani hari-hari santri ketika mengaji, menyelami isi karya para ulama dari berbagai belahan dunia yang diwariskan lintas generasi.

Isinya bermacam-macam. Mulai dari tata cara bersuci, persoalan ibadah, hingga adab dalam kehidupan sosial. Kitab lainnya membahas hadis, segala sesuatu yang pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW, perkataan, ketetapan, serta berbagai dalil yang menjadi landasan amalan dan tuntunan hidup umat Islam.

Bagi orang yang tidak akrab dengan kehidupan pesantren, pemandangan itu mungkin terlihat sederhana. Sekelompok anak muda duduk bersila, menghadap seorang kiai, membuka kitab, lalu mendengarkan penjelasan yang sesekali diselingi pertanyaan. Tidak ada layar presentasi, tidak ada proyektor, bahkan terkadang tidak ada meja dan kursi yang memadai.

Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan sebuah tradisi intelektual yang panjang.

Jika dibandingkan dengan sebagian metode belajar modern yang serba cepat, proses belajar di pesantren, khususnya dalam tradisi pengkajian kitab kuning, bisa dibilang cukup ketat. Ilmu tidak boleh berhenti pada sekadar tahu. Amal harus didasari ilmu. Pendapat harus memiliki rujukan. Bahkan, sumber ilmu dan siapa yang mengajarkannya pun menjadi perhatian.

Dalam tradisi pesantren dikenal istilah sanad. Bukan sekadar mengetahui dari buku mana sebuah pengetahuan berasal, tetapi juga mengetahui siapa yang mengajarkannya, dari guru mana ia belajar, dan bagaimana mata rantai keilmuannya tersambung.

Dengan kata lain, ilmu bukan barang yang bisa diambil begitu saja, lalu diklaim sebagai pemahaman sendiri.

Ada tanggung jawab di dalamnya.

Seorang santri tidak cukup hanya pandai membaca teks Arab. Ia harus memahami kedudukan kalimat, maksud penulis, konteks pembahasan, dan penjelasan para ulama. Dalam banyak kesempatan, satu persoalan bisa dibahas panjang lebar, dibandingkan dengan pendapat ulama lain, bahkan diperdebatkan dengan argumentasi yang tidak sederhana.

Proses itu mungkin terlihat lambat. Satu kitab bisa dipelajari berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Satu kalimat bisa diulang berkali-kali sampai benar-benar dipahami.

Tetapi justru di situlah letak keistimewaannya. Santri diajarkan untuk tidak tergesa-gesa menyimpulkan sesuatu.

Ketika dunia berubah menjadi serba cepat

Sekarang, kita hidup dalam zaman yang berbeda.

Untuk mengetahui sesuatu, orang tidak perlu lagi membuka banyak kitab atau menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan. Cukup mengetik beberapa kata di mesin pencari, ribuan jawaban langsung muncul. Bahkan, dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), seseorang bisa meminta penjelasan tentang persoalan agama, sejarah, filsafat, hingga hukum dalam hitungan detik.

Informasi semakin mudah diperoleh. Tetapi kemudahan itu tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pengetahuan.

Hari ini, seseorang bisa terlihat seperti ahli hanya karena pandai mengutip potongan ceramah, membaca beberapa artikel, atau mendapatkan jawaban dari mesin kecerdasan buatan. Pendapat dapat disebarkan ke ribuan orang hanya melalui satu unggahan media sosial.

Persoalannya, siapa yang menjamin informasi itu benar? Dari mana sumbernya? Apakah penjelasannya utuh atau hanya potongan yang dipisahkan dari konteks?

Di sinilah tradisi pesantren menemukan relevansinya.

Kebiasaan bertanya kepada guru, memeriksa rujukan, memahami konteks, dan tidak sembarangan mengambil kesimpulan sesungguhnya merupakan bekal penting menghadapi banjir informasi.

Sanad, dalam tradisi keilmuan Islam, mengajarkan bahwa pengetahuan memiliki tanggung jawab dan jalur transmisi. Semangat kehati-hatian ini juga penting diterapkan ketika santri memasuki dunia digital.

Sebab, tidak semua yang tertulis di internet adalah kebenaran. Tidak semua yang viral layak dipercaya. Dan tidak semua jawaban yang terdengar meyakinkan benar-benar memiliki dasar yang kuat.

Bahkan, kecerdasan buatan sekalipun bisa menghasilkan jawaban keliru. Ia bisa menyusun kalimat dengan sangat rapi, tetapi belum tentu memahami kebenaran sebagaimana seorang ahli yang memiliki kompetensi dan tanggung jawab keilmuan.

Maka, santri tidak seharusnya alergi terhadap teknologi. Justru mereka perlu menguasainya dengan bekal tradisi berpikir kritis yang telah lama dipelajari di pesantren.

Jangan sampai kuat menghafal masa lalu, tetapi gagap menghadapi masa depan

Ada satu persoalan yang juga perlu dibicarakan secara terbuka.

Pesantren selama ini dikenal berhasil membentuk karakter, menanamkan kedisiplinan, mengajarkan kesederhanaan, dan memperkuat pemahaman agama. Namun, ketika santri menyelesaikan pendidikannya dan kembali ke tengah masyarakat, mereka akan berhadapan dengan kehidupan yang tidak selalu sama dengan suasana pondok.

Ada kebutuhan ekonomi, persaingan pekerjaan, tuntutan keterampilan, dan perubahan sosial yang terus berlangsung.

Tidak semua santri akan menjadi kiai, ustaz, atau guru agama. Sebagian akan menjadi pedagang, petani, pengusaha, pegawai, profesional, bahkan mungkin bekerja di bidang teknologi yang hari ini belum pernah mereka bayangkan.

Mereka membutuhkan bekal untuk menjalani semua itu.

Di sinilah pesantren perlu terus membuka ruang pembaruan. Bukan dengan meninggalkan kitab kuning, apalagi mengurangi penghormatan terhadap tradisi keilmuan, melainkan memperkaya kemampuan santri agar lebih siap menghadapi kehidupan.

Kemampuan berbahasa asing, literasi digital, keterampilan komunikasi, pengelolaan keuangan, kewirausahaan, dan kemampuan profesional lainnya bisa menjadi bagian dari pengembangan pendidikan pesantren.

Tidak ada yang salah jika seorang santri menguasai ilmu nahwu sekaligus mahir mengoperasikan komputer. Tidak ada pertentangan antara belajar fikih muamalah dengan belajar mengelola usaha. Bahkan, pemahaman tentang amanah, kejujuran, dan keadilan yang dipelajari dalam kitab bisa menjadi fondasi penting ketika seseorang terjun ke dunia bisnis.

Kesalehan dan kemandirian ekonomi bukan dua hal yang harus dipertentangkan.

Justru akan lebih baik jika santri memiliki kemampuan untuk menghidupi dirinya sendiri, membantu keluarga, serta berkontribusi kepada masyarakat tanpa kehilangan prinsip keagamaannya.

Menjaga tradisi, bukan membekukan perubahan

Tantangan pesantren hari ini bukan hanya soal bagaimana mempertahankan tradisi, tetapi juga bagaimana memastikan tradisi itu tetap hidup dan mampu menjawab kebutuhan zaman.

Kita tentu tidak ingin pesantren kehilangan identitasnya. Kitab kuning, pengajian bersama kiai, tradisi musyawarah, penghormatan kepada guru, dan kehidupan sederhana merupakan kekayaan pendidikan Islam yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.

Namun, menjaga tradisi bukan berarti menutup pintu perubahan.

Pesantren juga perlu memperhatikan tata kelola kelembagaan, kualitas tenaga pengajar, kesejahteraan ustaz, fasilitas pendidikan, kesehatan santri, hingga sistem perlindungan dari perundungan dan kekerasan.

Kehidupan asrama yang mendidik kemandirian harus tetap menjamin rasa aman. Penghormatan kepada guru dan senior tidak boleh menjadi alasan untuk membenarkan kekerasan. Pendidikan akhlak harus tercermin pula dalam cara lembaga memperlakukan setiap santrinya.

Selain itu, keberlanjutan pesantren tidak seharusnya hanya bergantung kepada satu figur. Kiai memang menjadi pusat keteladanan dan keilmuan, tetapi lembaga pendidikan yang kuat juga membutuhkan sistem manajemen, kaderisasi, dan tata kelola yang baik.

Dengan begitu, pesantren tidak hanya besar karena kharisma pendirinya, tetapi juga kokoh karena sistem pendidikan yang dibangun.

Santri masa depan

Pada akhirnya, kita perlu membayangkan santri masa depan dengan cakrawala yang lebih luas.

Mereka tetap duduk bersila menghadap kiai, membaca kitab kuning, mempelajari ilmu nahwu, fikih, hadis, tafsir, dan akhlak. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga mampu membaca perkembangan dunia, memahami teknologi, menguasai bahasa asing, dan memiliki keterampilan yang dibutuhkan masyarakat.

Mereka tidak mudah percaya pada informasi yang beredar di media sosial karena terbiasa memeriksa sumber. Tidak mudah menghakimi karena memahami perbedaan pendapat. Tidak merasa paling benar karena menyadari luasnya khazanah keilmuan para ulama.

Mereka juga tidak minder ketika berhadapan dengan dunia modern. Sebab, menjadi santri bukan berarti harus tertinggal dari perkembangan zaman.

Justru tradisi keilmuan pesantren memiliki modal penting untuk melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki adab dan tanggung jawab moral.

Kita membutuhkan generasi yang mampu memadukan kedalaman ilmu dengan keluasan wawasan. Generasi yang tidak hanya pandai berbicara tentang agama, tetapi juga mampu menghadirkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan.

Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap keberhasilan pendidikan pesantren. Keberhasilan tidak cukup diukur dari seberapa banyak kitab yang selesai dikaji atau berapa banyak santri yang hafal bait-bait nadzam.

Lebih dari itu, bagaimana ilmu tersebut membentuk cara berpikir, sikap, dan kemampuan mereka menjalani kehidupan.

Sebab, membaca kitab adalah jalan untuk memahami warisan ilmu para ulama. Sementara membaca zaman adalah kemampuan untuk mengamalkan ilmu itu dalam kehidupan yang terus berubah.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Santri harus tetap akrab dengan kitab kuning, tetapi jangan sampai asing dengan dunia di sekelilingnya. Mereka perlu menjaga sanad keilmuan, sekaligus membangun kecakapan menghadapi masa depan.

Sebab, zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, dan cara manusia bekerja boleh berganti. Tetapi ilmu, adab, dan tanggung jawab terhadap kebenaran tidak boleh ditinggalkan.

Santri yang baik bukan hanya mereka yang mampu membaca kitab, melainkan juga mereka yang mampu membaca zamannya.

Selamat Hari Santri Nasional!

 

Redaksi Rasioo.id

Komentar