RASIOO.id – Cahaya lampion elektrik berpendar lembut di pelataran Vihara Boen San Bio, Kota Tangerang, Selasa 3 Maret 2026 malam. Tabuhan genderang menggema, disusul liukan liong yang memukau ratusan pasang mata. Perayaan Cap Go Meh tahun ini bukan sekadar penutup rangkaian Imlek, tetapi juga pesta budaya yang penuh warna, tawa, dan harapan.
Cap Go Meh menandai hari ke-15 sekaligus hari terakhir perayaan Tahun Baru Imlek. Di vihara tertua di Tangerang itu, suasana terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya perayaan hanya diisi persembahyangan, kali ini panggung budaya benar-benar dihidupkan.
Wakil Ketua Yayasan Boen San Bio, Jenny Alta, menjelaskan bahwa malam Cap Go Meh menjadi simbol penutup seluruh rangkaian Imlek. “Di malam Cap Go Meh ini adalah hari terakhir Imlek. Kami mengadakan parade lampion, wushu, dan tarian liong barongsai, serta menyiapkan masakan untuk umat,” ujarnya.
Sejak sore, umat dan masyarakat umum mulai memadati area vihara. Anak-anak berlarian kecil sambil membawa lampion, remaja berswafoto dengan latar dekorasi merah keemasan, sementara para orang tua khusyuk mengikuti doa bersama.
Saat parade dimulai, lampion elektrik diarak berkeliling dengan tertib. Pilihan menggunakan lampion tanpa lilin diambil demi keselamatan bersama. “Kami menggunakan lampion elektrik saat berkeliling, karena kalau memakai lilin dikhawatirkan terkena tangan. Ini untuk menjaga kenyamanan dan keamanan bersama,” jelas Jenny.
Puncak kemeriahan hadir ketika liong meliuk mengikuti irama tambur. Gerakannya lincah, kadang naik, kadang turun, seolah menyapa setiap sudut kerumunan. Sorak sorai penonton pecah setiap kali atraksi mencapai klimaks.
Namun, kejutan paling hangat justru datang dari panggung sederhana di sisi halaman vihara. Di sanalah para ibu-ibu dengan penuh percaya diri mengambil mikrofon, menyanyikan lagu-lagu favorit mereka. Karaoke dadakan itu mencairkan suasana, menghadirkan tawa dan tepuk tangan yang tak kalah meriah dari atraksi liong.
“Cap Go Meh melibatkan semua usia, baik orang tua maupun anak-anak semuanya ikut,” kata Jenny. Kebersamaan lintas generasi inilah yang membuat perayaan terasa hidup—bukan hanya seremoni, tetapi juga ruang temu dan sukacita bersama.
Lebih dari sekadar hiburan, Cap Go Meh menjadi momentum doa di awal tahun 2026. Umat memanjatkan harapan akan kesehatan, keberkahan, dan kemajuan bagi diri sendiri, keluarga, serta bangsa.
“Ini bagian dari Imlek dan menjadi doa memasuki tahun 2026, agar dari awal sampai akhir tahun semuanya sehat. Umat berdoa untuk pribadi, keluarga, dan Indonesia supaya lebih baik dan maju,” tuturnya.
Acara berlangsung aman dan kondusif berkat dukungan pengamanan dari unsur TNI dan Polri, termasuk personel Korem 05/Wirakarta, Kodim 0506/Tangerang, dan Polsek Karawaci.
Malam pun ditutup dengan senyum dan doa. Cahaya lampion perlahan meredup, tetapi semangat persatuan yang terpatri di hati para hadirin tetap menyala.
Perayaan Cap Go Meh di Boen San Bio tahun ini tak hanya merawat tradisi, tetapi juga mempererat kebersamaan. Liukan liong dan lantunan karaoke ibu-ibu menjadi simbol bahwa budaya dan kebahagiaan bisa berjalan beriringan—mengantar harapan baru bagi Tangerang dan Indonesia di tahun yang baru.













Komentar