Warga Rumpin Tagih Janji Gubernur Jabar Ridwan Kamil Soal Jalur Khusus Angkutan Tambang

 

RASIOO.id – Warga Rumpin kembali mempertanyakan janji Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil untuk membangun jalur khusus angkutan tambang yang tak kunjung terealisasi. Warga berharap jalur khusus angkutan tambang bisa mengakhiri konflik lalu lintas antara armada tambang berukuran besar dengan kendaraan umum lainnya yang melintas di jalur utama.

“Tahun lalu katanya kan sudah mau dibangun, tapi kok sampai sekarang belum ada pekerjaan yang dimulai,” ujar, Suganda (48), warga Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin.

Baca Juga : Pembangunan Tol Tambang Gagal Lagi

Suganda yang berprofesi sebagai sopir angkutan penumpang mengaku sangat kerepotan berkendara di jalan raya Cicangkal. Jalan tersebut hanya memiliki lebar 8 meter, dan menjadi jalur utama truk-truk besar yang mengangkut material tambang dari arah Rumpin ke Jakarta dan Tangerang.

“Setiap hari macet saja, di jam jam siang macetnya hampir dua jam lebih saya baru bisa masuk ke SPBU Cicangkal mengisi bensin,”ucapnya.

Salah satu titik langganan macet lalulintas terjadi di SPBU Cicangkal, Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Kemacatan panjang terjadi karena antrian truk tronton yang mengisi BBM jenis solar di SPBU tersebut.

“Antriannya panjang bisa sampai 1 kilometer,” imbuhnya.

Menanggapi hal itu staf pertamina SPBU Cicangkal Selamet mengatakan, pihaknya berjanji akan memberikan surat pemberitahuan kepada perusahaan tambang dan transportasi di wilayah Kecamatan Rumpin.

“Nanti pihak SPBU Cicangkal akan koordinasi dan mengeluarkan surat pembetitahuan untuk pengusaha transportasi dan pengusaha tambang, karena antrian truk di SPBU keluarnya berbarengan sehingga macet,”katanya.

Lanjut Selamet menjelaskan, truk tronton ysng mengisi BBM jenis solar ini menutup pintu masuk SPBPU Cicangkal dan berdampak kemacetan. Konndisi ini merugikan masyarakat pengendara yang lain, karena jalur tersebut merupakan akses utama masyarakat untuk berbagai aktivitas, seperti pulang dan pergi ke sekolah dan akses ke pasar Cicangkal.

Selamet menuturkan, kondisi kemacetan diperparah karena di SPBU tersebut para sopir truk tronton tidak hanya mengisi BBM tapi juga transaksi pengambilan uang jalan dari koordinator perusahaan transportasi angkutan tambang.

“Antrian bisa teurai selama 2 jam kalau truk tronton yang mengisi BBM solar langsung melanjutkan perjalanan. Namun, karena adaanya pemberian uang jalan berbarengan sehingga truk tronton menumpuk di SPBU Cicangkal untuk mengisi solar,”pungkasnya.

 

Komentar