RASIOO.id – Pengamat Politik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Serang, Encep Supriatna membagikan pandangannya terkait konstalasi politik saat ini, terutama terkait Pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, yang diusung Partai Koalisi Indonesia Maju.
Menurut dia, pasangan ini merupakan perpaduan antara golongan tua dan generasi muda.
“Prabowo yang usianya 70 an dengan Gibran yang usia milenial 36 tahun, memang ini perpaduan yang cukup bagus,” kata dia
Hanya saja, lanjut Encep, publik sudah apatis dari awal karena Gibran walaupun sudah disinyalir akan dipasang dengan Prabowo memiliki latarbelakang kepentingan kekuasaan Presiden Joko Widodo.
“Ibaratnya, publik menganggap hasil cawe-cawe. Terlebih apabila kita lihat bahwa majunya Gibran ini juga merupakan hasil dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memperbolehkan usia presiden atau wapres itu 35 tahun atau di bawah 40 tahun asal pernah menjadi dan/atau berpengalaman sebagai kepala daerah jadi publik sudah bisa melihat benang merahnya disana,” paparnya.
Akademisi UPI itu berpandangan, pasca pasangan Prabowo-Gibran ini mendaftarkan ke KPU sudah barang tentu hubungan antara presiden Jokowi dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri ini akan retak.
“Karena kita tahu bahwa dari awal sebetulnya Pak Jokowi itu menginginkan Ganjar untuk maju karena ada kepentingan tertentu di sana. Tapi dalam perjalanannya hubungan itu retak karena Ibu Mega memasangkan dengan Pak Mahfud,” kata dia.
Menurut Encep, Ganjar dan Mahfud secara tidak langsung sudah ditanya komitmennya dari PDIP dan itu di luar sepengetahuan ataupun persetujuan dari Jokowi. Hal tersebut bisa dinalar karena pasangan ini dideklarasikan ketika Presiden Jokowi di luar negeri.
“Sudah barang tentu mungkin ada komitmen agar nanti pasangan ini kedepan kalau pun jadi harus berkomitmen untuk terus mendukung ya terutama kelanjutan dari PDIP sendiri, mengamankan agar nanti PDIP ini tidak jatuh ke orang lain,” tegasnya.
Sementara, Encep melanjutkan, masuknya putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep ke dunia politik dan langsung menjadi Ketua Umum PSI, secara tidak langsung menjadi ancaman bagi peta suara PDIP.
PSI dianggap dapat menggebosi PDIP pada pemilu tahun depan. Situasi ini, kata dia, tentu saja membuag PDIP kurang nyaman, karena bagaimanapun Kaesang merupakan representatif Jokowi yang saat ini masih kader PDIP.
“Mungkin ada amunisi dari kalangan yang selama ini sudah nyaman di PDIP itu akan pindah ke PSI,” cetusnya.
Peta Suara Capres-Cawapres
Dengan Prabowo-Gibran mendaftar, saat ini ada tiga pasangan calon yang akan berkontestasi di Pilpres 2024.
Encep menjelaskan dari tiga pasangan calon ini, melihat ada plus minusnya. Msalnya pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) ini paduan nasionalis dan religius bahkan cenderung duan-duanya religius.
“Hanya pemilihnya memang ini dari kalangan nasionalis dan religius karena nasionalis ada NasDem disana. Kalau religiusnya sudah pasti, mau tidak mau ada basisnya NU,” kata dia
Lanjut beliau, pasangan Anis-Muhaimin juga memiliki latarbelakang sebagai aktivis HMI yang juga memiliki basis kebawah kemudian juga Cak Imin sebagai aktivis PMII juga punya basis dari gerakan islam, pesantren dan kalangan Nahdliyyin.
“Ada juga PKS yang menyokong koalisi perubahan ini juga kan,” tambahnya.
PKS memiliki basis masanya kalangan islam yang militan yang berada di perkotaan. Tempo hari, kata dia, Pemuda Muhammadiyah juga mendukung pasangan ini.
“Intinya, kalangan Islam modernis kota itu akan cenderung ke AMIN,” paparnya.
Selanjutnya, untuk pasangan Ganjar dan Mahfud, menurut Encep, sudah tentu nasionalisnya PDIP yang memiliki basis lumayan kuat sebagai pemenang pemilu tahun 2019 kemarin. Hanya saja, koalisi partai pengusungnya tidak terlalu besar, yakni PDIP, PPP, Hanura, dan Perindo.
Itu pun, PPP agak kecewa karena Plt Ketum PPP Mardiono sudah menggadang-gadang Sandiaga Uno untuk jadi Wakil Presiden berpasangan dengan Ganjar tapi kenyataannya tidak dipilih. Situasi ini agak kurang bagus terhadap sokongan dari PPP.
Sementara partai yang lainnya seperti Perindo dan Hanura kursi di parlemennya juga cenderung sedikit.
“Jadi pasangan ini akan banyak ceruk pemilihnya dan diprediksi akan berebut dukungan suara dengan pasangan dari Prabowo-Gibran,” kata dia.
Sementara, untuk pasangan Prabowo-Gibran ini cenderung perpaduan nasionalis karena disana ada Golkar, PAN, Demokrat dan Gelora, yang religiusnya itu hanya PBB yang dikomandoi Yusril Ihza Mahendra.
Sayang, PBB pun di parlemen sangat minim. Jadi, akan berebut dengan kubu Ganjar dan Mahfud.
“Nah, pasangan Ganjar dan Mahfud ini lumayan karena beliau juga kader dari HMI sementara ganjar itu GMNI. Mahfud sebagai orang madura juga terkenal religius. Konon katanya dari kader NU juga, beliau juga pernah pesantren. Dari segi pemilihnya cenderung lebih sedikit di bandingkan dengan kubu perubahan dari pasangan Anis-Muhaimin,” kata dia.
“Tapi saya lihat masing-masing punya plus minesnya kalo satu putaran memang agak berat. Saya dengar memang kubu yang baru mendaftar ini ingin satu putaran,” imbuhnya.
Simak rasioo.id di Google News














Komentar