RASIOO.id – “Iwak Teri campur kemangi, masio lawane ngeri, yo tak imbangi,” ucap Bacapres Anies Baswedan saat hendak men-skak mat pak Hantoyo di meja catur menggunakan kuda hitam miliknya.
Kontestasi pemilihan presiden (Pilpres) 2024 nampak sudah masuk masa tegang. Bacapres mulai saling mempromosikan diri, baik lewat dirinya sendiri maupun relawan mereka untuk meraup dengan siku suara rakyat.
Anies Baswedan tidak habisnya membuat postingan yang memberikan ruang masyarakat untuk berkomentar ke sejumlah sudut dengan gaya caption yang seringkali disampaikan secara implisit.
Pada postingan terbaru, Anies Baswedan mengunggah sebuah video yang tengah bermain catur dengan salah satu warga Desa Kracak, beralaskan karpet dan menggunakan sarung serta berlatar rumah warga biasa untuk menunjukan dirinya populis.
Namun, di balik kepopulisan itu, nampak juga sepatah dan dua patah kata yang ia lontarkan kepada lawan main caturnya “Iwak Teri campur kemangi, masio lawane ngeri, yo tak imbangi (Ikan Teri campur kemangi, walaupun lawannya ngeri, ya saya imbangi),”
Tentu, ucapannya bukan diperuntukan kepada pak Hantoyo yang kalah di-skak mat oleh Anies Baswedan. Namun bisa jadi kepada sosok yang dia nilai kuat dalam pertempuran Pilpres 2024 dengannya atau untuk dirinya sendiri.
Ditambah Caption yang ia gunakan “Main Catur lawan Pak Hantoyo di Desa Kracak. Menang, skak mat dengan kuda hitam :),” menegaskan dirinya mampu menang dalam permainan di Pilpres 2024 dengan berbagai cara lawan yang sudah mereka buat.
Baca Juga : Duet Anies-Cak Imin dalam Pandangan Kiai NU di Jawa Timur
Kuda Hitam Andalan
Politik Kuda Hitam memang sudah menjadi misteri yang biasa dalam politik tingkat lokal hingga kancah dunia. Istilah ini populer sejak abad ke-19, dimana sosok presiden Amerika ke 11 James Knox Polk menjadi kandidat Kuda Hitam pertama di kontestasi politik Amerika. Ia menang dalam kontestasi lewat Partai Demokrat pada konvensi pada tahun 1844, meski berbagai hujatan bermunculan, namun kontestasi tetap berpihak padanya.
Singkatnya, politik Kuda Hitam merupakan fenomena di mana seorang kandidat, yang tidak diprediksi publik keberadaannya, muncul secara tiba-tiba untuk memenangkan kontestasi dan meraup suara sebanyak-banyaknya.
Ini terjadi pada kontestasi Pilpres 2019 silam, dimana Jokowi secara tiba-tiba menjadikan Ma’ruf Amin menjadi Cawapres untuk meraup suara Nahdliyin. Padahal, masyarakat sudah mengira Mahfud MD lah yang menjadi kandidat kuat Cawapres Jokowi karena pakaian yang sudah dipersiapkan begitu matang oleh Mahfud MD dan rilis survei yang selalu digaungkan.
Kontestasi Pilpres 2024, hanya Anies Baswedan lah yang melakukan hal tersebut. Sebab, kesetiaan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dikecewakan karena dirinya tidak dibalas kasih oleh Anies untuk menjadi Cawapresnya.
Anies secara tiba-tiba mengangkat Ketum PKB Muhaimin Iskandar sebagai Bacawapres untuk maju dalam gelanggang Pilpres 2024 di tengah isu AHY yang akan mendampinginya.
Meski sejumlah hujatan disampaikan simpatisan AHY, Anies Baswedan terus maju dengan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin dan menyakinkan dengan menjadi kandidat Capres-Cawapres pertama yang mendaftarkan diri ke KPU RI.
Hadirnya Kuda Hitam tidak jarang membuat kemenangan salah satu kontestan, hal itu dibuktikan oleh beberapa contoh di atas. Meski perhitungan Kuda Hitam tidak terpikir oleh para pemilih (rakyat dan pengamat) bahkan lembaga survei, namun kemenangan tetaplah kemenangan.
Sebab, hitung-hitungan politik seringkali tidak sesuai dengan kaidah matematis. Ada hitungan di luar matematika yang tidak bisa dibendung oleh para politisi, seperti pengusaha, koalisi, hingga kepentingan penguasa. Hitungan demokrasi (suara rakyat) akan kalah dengan hitungan kepentingan para penyokong utama kontestasi.
Akankah Anies Baswedan dan NasDem akan mengulang, menang lewat jalur Kuda Hitam?
Penulis : Egi Abdul Mugni
Simak rasioo.id di Google News















Komentar