RASIOO.id – Pemilihan Raya atau yang di singkat Pemira adalah salah satu bentuk dari demokrasi kampus. Agenda tahunan ini selalu menjadi magnet tersendiri dalam membangun pola dinamika di lingkungan kampus serta sarana adu gagasan dan intelektual bagi mahasiswa yang ikut terlibat di dalamnya. Hal tersebut selalu memberikan warna dan juga cerita tersendiri.
Seperti halnya yang terjadi di Kampus Universitas Insan Pembangunan Indonesia yang menggelar Pemira dalam rangka pemilihan Calon Presiden Mahasiswa dan juga Calon Wakil Presiden Mahasiswa tahun kedua yang diselenggarkan oleh Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa UNIPI.
Dimana ada dua kandidat yang berkontestasi di Pemira tersebut yaitu pasangan no urut 01 yaitu Ahmad Nawawi – Risna Ayu Lestari yang diusung oleh beberapa organisasi internal kampus, baik Himpunan dan Departemen. Pasangan ini merupakan Kader HMI Komisariat Insan Pembangunan, dimana Ahmad merupakan Ketua bidang Perguruan Tinggi dan Kepemudaan (PTKP) dan juga pasangannya Risna Ayu Lestari Wakil Sekertaris Bidang Eksternal Kohati Komisariat Insan Pembangunan.
Sementara, lawannya pasangan no urut 02 yaitu Firda Hasani – Abdul Wahid juga diusung oleh beberapa organisasi internal kampus baik Himpunan dan Departmen, dan pasangan ini merupakan Kader PMII Komisariat Insan Pembangunan.
Baca Juga : KOPRI PMII Komisariat Aulia Bogor Gembleng Kader dengan SIG ke V
Dimulai dari proses pendaftaran sampai penghitungan, prosesnya berjalan dengan lancar. Adapun terjadi perbedaan itu merupakan proses dinamika yang biasa terjadi dan lumrah dalam sebuah kontestasi.
Dalam perjalanan selama masa kampanye dan debat kandidat yang di selenggarakan oleh KPUM UNIPI, pasangan Ahmad dan Risna selalu mengedepankan pemikiran dan gagasan yang akan dilakukan jika nantinya terpilih menjadi Presma dan Wapresma hal tersebut menjadikan nilai lebih di mata mahasiswa.
Sehingga, ketika pemilihan dilaksanakan tanggal 30 November 2023 dimulai pukul 09.00-21.30 pasangan no urut 01 memperoleh sebanyak suara 378 dan pasangan no urut 02 sebanyak 331. Pasangan 01 unggul 47 suara.
Sebelumnya, pasangan no urut 02 telah melakukan banding karena ditemukan 31 suara gaib saat dilakukan validasi baik oleh KPUM dan saksi dari dua paslon.
Namun KPUM menyatakan, suara tersebut sah dan adapun suara gaib itu terjadi karena akibat kesalahan di internal KPUM itu sendiri. Saat pemilihan dilakukan di awal banyak miss komunikasi sehingga hal tersebut terjadi. Andai pun suara tersebut di anggap tidak sah maka tidak akan berpengaruh terhadap selisih suara antar paslon.
Kembali lagi, yang di sampaikan di atas bahwa dinamika hal yang wajar terjadi namun, harus dilakukan secara elegan dan ada data yang memperkuat argumentasi karena kita merupakan akademisi. Hal-hal yang tidak etis seperti penggunaan kata kotor dan juga kekerasan tidak perlu dilakukan karena tidak mencerminkan pribadi akademis.
Penulis juga berharap adanya kontestasi Pemira ini menjadi ajang adu gagasan dan intelektual mahasiswa UNIPI ke depannya serta dalam prosesnya KPUM UNIPI perlu banyak bebenah agar kesalahan-kesalahan hari ini yang terjadi bisa di minimalisir. Selain itu, KPUM jangan anti kritik dan anti melibatkan internal, baik himpunan dan departemen yang ada.
Pada intinya, kontestasi ini jadikan ajakan silaturahmi antar mahasiswa selepas dari momentum ini berjalan beriringan berkerja sama untuk memajukan kampus Universitas Insan Pembangunan Indonesia.
Oleh : Muhammad Yunus
Kabid P3A Komisariat Insan Pembangunan HMI Cabang (P) Kabupaten Tangerang
Simak rasioo.id di Google News















Komentar