“Humor yang tidak bijak justru membangun jarak, bukan persaudaraan. Dalam dakwah, kata-kata kita harus mencerminkan empati, bukan sekadar tawa. Di dunia yang saling terhubung ini, setiap ucapan adalah tanggung jawab moral, karena setiap kata bisa mempererat atau merusak keharmonisan.”
Bung Eko Supriatno
RASIOO.id – Gus Miftah, yang dikenal sebagai tokoh yang sering mengusung pesan-pesan toleransi dan kebijaksanaan, melontarkan sebuah candaan yang, meski tampaknya ringan, justru menimbulkan gelombang reaksi. Kata “goblok” yang ia sematkan kepada seorang pedagang es teh keliling, dalam konteks yang mungkin dimaksudkan sebagai lelucon, langsung menyebar ke jagat media sosial, memicu perdebatan dan kecaman yang meluas.
Candaan itu, yang semula diharapkan dapat mengundang tawa, justru menggugah pertanyaan mendalam tentang batasan-batasan dalam berhumor, terutama bagi figur publik yang selama ini dijadikan panutan.
Gus Miftah, yang memiliki pengaruh besar di kalangan umat, tiba-tiba terjebak dalam dilema klasik antara keinginan untuk menyampaikan humor yang dekat dengan realitas sehari-hari dan kewajiban moral untuk menjaga kehormatan dan martabat sesama.
Dalam dunia yang semakin terhubung ini, tempat-tempat publik, termasuk media sosial, seolah menjadi ruang di mana setiap kata dan tindakan dapat menjadi sorotan. Sebuah lelucon yang mungkin tidak berniat menyakiti, bisa berubah menjadi kontroversi yang memecah belah. Fenomena ini bukan hanya berkaitan dengan Gus Miftah semata, melainkan juga dengan pergulatan budaya, nilai-nilai, dan tata krama dalam masyarakat kita yang semakin dinamis.
Penulis memahami bahwa humor adalah sebuah bentuk ekspresi yang sering kali lahir dari keakraban dan spontanitas, memiliki daya tarik yang tak terbantahkan dalam membangun jembatan komunikasi. Namun, di tengah masyarakat yang semakin heterogen dan penuh dengan kepekaan, apakah masih ada ruang bagi humor yang kasar dan tanpa filter? Apakah humor semacam ini hanya menjadi sebuah guyonan belaka, atau justru mencerminkan kekurangan dalam pemahaman kita terhadap etika publik dan sensitivitas sosial?
Kita perlu merenung lebih dalam. Kejadian ini bukan hanya soal Gus Miftah atau satu kalimat yang terlontar. Ia merupakan cermin dari bagaimana kita sebagai bangsa berusaha menyeimbangkan antara kebebasan berpendapat, penghormatan terhadap sesama, dan tanggung jawab publik. Sebuah diskursus yang tak pernah usai, dan tentu saja, penuh dengan berbagai lapisan makna yang harus terus digali.
Humor, dalam konteks ini, lebih dari sekadar tawa yang mengiringinya. Ia adalah gambaran dari suatu sikap, pilihan kata, dan keputusan yang melibatkan banyak pihak. Maka, dari kejadian ini, marilah kita belajar untuk memaknai setiap tutur kata dengan lebih bijaksana, dengan kesadaran bahwa dalam setiap lelucon yang kita lontarkan, ada dunia lain yang sedang kita bangun atau bahkan meruntuhkan.
Baca Juga: Jejak Demokrasi Indonesia : Menelusuri Sejarah Pemilu dalam Panggung Politik














Komentar