RASIOO.id – Proses pembongkaran Gedung Pasar Bogor mulai memasuki tahap pengerjaan. Namun di tengah suara alat berat dan material bangunan yang runtuh, aktivitas jual beli masih berlangsung. Sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) terlihat tetap berjualan demi mempertahankan penghasilan, Sabtu 28 Februari 2026 sekitar pukul 14.00 WIB.
Pantauan RASIOO.id di lokasi menunjukkan suasana yang kontras. Di satu sisi, alat berat bekerja merobohkan bagian bangunan pasar. Di sisi lain, pedagang masih melayani pembeli di lapak sederhana yang berdiri tak jauh dari area pembongkaran.
Padahal, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor telah memasang spanduk larangan serta imbauan agar pedagang tidak lagi beraktivitas di kawasan proyek demi alasan keselamatan.
Bertahan di Tengah Risiko
Meski potensi bahaya mengintai, sebagian pedagang memilih tetap bertahan. Bagi mereka, berhenti berjualan berarti kehilangan sumber penghasilan harian.
Wahmi (60), pedagang tempe yang sudah lama mencari nafkah di Pasar Bogor, mengaku memahami risiko yang ada. Namun kebutuhan ekonomi membuatnya belum siap meninggalkan lokasi tersebut.
“Peringatan sih sudah ada, Neng. Tapi kalau tiba-tiba roboh juga takut. Biasanya kalau ada bahaya pasti dikasih aba-aba sama petugas,” ujarnya kepada RASIOO.id.
Ia mengatakan masih ingin berjualan di lapak lamanya selama proses pembongkaran belum selesai sepenuhnya. Wahmi berencana pindah setelah Hari Raya Idulfitri.
“Katanya total dirobohkan habis Lebaran. Tempat pengganti sebenarnya sudah ada di Sukasari, bisa sewa atau beli,” tambahnya.
Dilema Relokasi dan Biaya Sewa
Sebelum menjadi PKL, Wahmi memiliki kios resmi di dalam Pasar Bogor dengan biaya sewa sekitar Rp1,5 juta per bulan. Kini, ia berharap pemerintah dapat memberikan keringanan biaya di lokasi relokasi Pasar Sukasari.
Menurutnya, meski tersedia masa gratis selama tiga bulan, kekhawatiran muncul saat kewajiban pembayaran mulai berjalan.
“Ada masa gratis tiga bulan di Sukasari, tapi setelah itu harus bayar. Kalau sewanya berat, mungkin saya pilih jualan di rumah saja daripada kepikiran beban lima tahun ke depan,” keluhnya.
Omzet Turun Drastis
Kondisi pasar yang perlahan kosong akibat pembongkaran turut memukul pendapatan pedagang. Banyak komoditas utama sudah tidak lagi tersedia karena pedagang lain lebih dulu pindah.
“Turun banyak. Sekarang yang jualan sudah tidak lengkap, pedagang daging dan ikan sudah mulai tidak ada,” kata Wahmi.
Situasi ini menggambarkan realitas yang dihadapi para pedagang kecil: berada di antara kebutuhan mencari nafkah dan risiko keselamatan di tengah proses pembangunan ulang pasar.
Di balik debu pembongkaran dan deru alat berat, Pasar Bogor bukan hanya tentang proyek revitalisasi, tetapi juga tentang perjuangan para pedagang kecil yang masih bertahan menjaga roda ekonomi keluarga tetap berputar. (Hana)















Komentar