RASIOO.id – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor menyiapkan sejumlah skema agar program Gerakan Wajib Menanam Pohon tetap dapat dilaksanakan oleh seluruh sekolah, meski sebagian sekolah di kawasan perkotaan memiliki keterbatasan lahan hijau.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Herry Karnadi, mengatakan beberapa sekolah, khususnya di pusat kota, hampir tidak lagi memiliki lahan terbuka yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penanaman pohon. Di antaranya SMP Negeri 1, SMP Negeri 7, dan SMP Negeri 8 Kota Bogor.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak akan menjadi hambatan dalam pelaksanaan program pembentukan karakter peduli lingkungan. Sekolah dapat memanfaatkan ruang publik, seperti bantaran Sungai Ciliwung, taman kota, maupun media tanam berupa pot sayur yang tersedia di lingkungan sekolah.
“SMP 7 sudah tidak ada lahan, SMP 1 juga tidak ada lahan, SMP 8 sangat terbatas. Nanti mereka bisa menanam di depan sekolah, di pinggir Sungai Ciliwung, atau di taman-taman kota seperti Taman Ciheuleut. Nanti sekolah yang mengatur pelaksanaannya,” ujar Herry.
Ia menjelaskan, Disdik telah menyusun skema penanaman yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah agar program berjalan efektif tanpa mengganggu estetika lingkungan perkotaan.
Herry menegaskan kebijakan tersebut berlaku bagi seluruh satuan pendidikan, baik negeri maupun swasta, mulai dari tingkat SD hingga SMP. Bahkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi agar program serupa juga diterapkan di jenjang SMA.
“Program ini berlaku untuk semua, SD negeri dan swasta, SMP negeri dan swasta. Kami juga akan berkoordinasi agar SMA, baik negeri maupun swasta, ikut melaksanakan. Ini bagian dari pembentukan karakter peduli lingkungan bagi seluruh peserta didik,” tegasnya.
Selain membahas program penghijauan, Herry juga menanggapi arahan Wali Kota Bogor terkait peningkatan wawasan kelokalan siswa melalui kegiatan pembelajaran di luar kelas atau outing.
Ia mengakui selama ini sekolah menghadapi kendala karena kegiatan di luar sekolah kerap membutuhkan biaya tambahan untuk transportasi dan kebutuhan lainnya. Kondisi tersebut membuat sejumlah sekolah memilih membatasi kegiatan tersebut agar tidak membebani orang tua siswa.
“Sekolah sering terbentur aturan karena kalau mengadakan kegiatan di luar harus ada biaya tambahan, seperti transportasi dan kebutuhan lainnya. Itu yang membuat sekolah menjadi lebih berhati-hati,” katanya.
Sebagai solusi, Disdik Kota Bogor akan mencari mekanisme yang tidak membebani sekolah maupun peserta didik. Salah satunya dengan mendorong keterlibatan orang tua untuk mengajak anak mengenal berbagai potensi lokal di Kota Bogor di luar kegiatan sekolah.
“Nanti akan kami bahas dan dicarikan jalan keluarnya. Kalau sekolah terbentur aturan, mungkin orang tua bisa kami imbau untuk mengajak anak-anaknya mengenal lingkungan dan potensi lokal secara langsung,” pungkas Herry.














Komentar