RASIOO.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menghadirkan waste station berbasis aplikasi di kawasan Balai Kota Bogor. Fasilitas ini menjadi bagian dari upaya membenahi pengelolaan sampah sejak dari tingkat hulu.
Fasilitas tersebut memungkinkan masyarakat menyetorkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi untuk kemudian ditukarkan menjadi saldo digital melalui aplikasi.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan, kehadiran waste station menjadi langkah Pemkot Bogor dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Yang pertama ini bagian dari upaya kita, Pemerintah Kota Bogor, memastikan arah kebijakan pengelolaan sampah dari hulu ke hilir ini berjalan,” ujar Dedie.
Menurut Dedie, fasilitas tersebut terwujud melalui kolaborasi dengan sejumlah pihak, di antaranya Recology System, Ford Foundation, Yayasan Matheria, Parongpong, ReOHouse, Kementerian Dalam Negeri, serta Kementerian Lingkungan Hidup.
Ia menyebut waste station yang berada di Balai Kota Bogor menjadi fasilitas pertama dengan konsep tersebut di Jawa Barat.
“Dan saya pikir ini baru yang pertama ya di Jawa Barat. Kita siapkan waste station untuk menerima tadi beberapa sampah yang masih punya nilai ekonomi,” katanya.
Pemilihan Balai Kota Bogor sebagai lokasi waste station mempertimbangkan tingginya aktivitas masyarakat di kawasan tersebut. Warga yang melintas maupun beraktivitas di sekitar Balai Kota dapat memanfaatkan fasilitas itu untuk menyetorkan sampah.
“Tujuannya, masyarakat gampang. Kalau di sini kan lalu lintasnya sangat padat, tinggi, dan masyarakat banyak sekali yang beraktivitas di seputaran Balai Kota,” tuturnya.
Untuk menggunakan fasilitas tersebut, masyarakat perlu memiliki aplikasi yang disediakan. Sampah yang disetorkan, seperti botol dan plastik, akan ditimbang dan dikonversi menjadi saldo digital.
“Dengan syarat harus punya aplikasinya. Harganya pun saya pikir ini cukup bersaing. Jadi artinya ini bagian dari upaya kita membangun manusianya,” ujar Dedie.
Ia mencontohkan, masyarakat dapat menyetorkan beberapa kilogram sampah dan nilai ekonominya langsung masuk ke saldo aplikasi.
“Enggak punya duit, bawa 3 kg, 4 kg, masuk langsung di aplikasi jadi saldo. Atau iseng-iseng lagi lari, atau tiap hari jalan lewat sini, setor. Lama-lama nanti saldonya tambah banyak,” tuturnya.
Dedie berharap keberadaan fasilitas tersebut dapat membentuk kebiasaan masyarakat untuk memilah dan menyetorkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.
“Memang ini yang kita inginkan, jadi sampah itu betul-betul terkelola dari hulu ke hilir,” tambahnya.
Pemkot Bogor juga membuka peluang memperluas fasilitas serupa ke sejumlah titik lain, termasuk wilayah kecamatan, apabila mendapat respons positif dari masyarakat.
“Kalau nanti animo masyarakatnya tinggi, ya kita tawarkan nanti ke Recology System. Bisa enggak di titik-titik yang strategis. Atau kita bikin sendiri nanti DLH, bisa aja. Pokoknya mah intinya dari hulu ke hilir kita harus beresin,” pungkas Dedie.















Komentar