RASIOO.id – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-42 akan digelar di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur mulai hari ini, Selasa 9 Mei hingga 11 Mei 2023. Indonesia yang menjadi tuan rumah sekaligus Keketuaan ASEAN akan memanfaatkan perhelatan akbar tersebut untuk membahas berbagai isu dan kerjasama antar negara-negara anggota.
Salah satu isu krusial yang akan mendapat perhatian khusus adalah masalah perdagangan manusia yang terjadi di wilayah konflik Myanmar.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan akan membahas persoalan yang sangat meresahkan masyarakat ASEAN tersebut.
“Baru-baru ini, pemerintah Indonesia menyelamatkan 20 WNI korban perdagangan manusia dari wilayah konflik di Myanmar. Pada 5 Mei lalu otoritas Filipina dan perwakilan negara lain, termasuk Indonesia, menyelamatkan 1.048 orang dari 10 negara, 143 di antaranya adalah dari Indonesia,” ujar Presiden Jokowi dalam keterangan tertulisnya.
Baca Juga : Konflik Myanmar akan dibahas Khusus di KTT ASEAN Labuan Bajo
Presiden menambahkan, korban perdagangan manusia ini adalah rakyat ASEAN yang umumnya tertipu secara daring. Karena itu, pada KTT ASEAN di Labuan Bajo, Indonesia mengusung isu pemberantasan perdagangan manusia untuk dibahas bersama.
“Perdagangan manusia harus diberantas tuntas, hulu sampai ke hilir,” tegasnya
Baca Juga : Wajah Baru Labuan Bajo Jelang KTT ASEAN ke-42
Myanmar merupakan negara yang terus dilanda konflik internal. Sejak merdeka dari Inggris pada 1948, negara yang dulunya bernama Burma ini langsung didera serangkaian pemberontakan di beberapa wilayah. Mayoritas konflik tersebut sebenarnya berbasis etnik. Beberapa etnik membentuk kelompok bersenjata dan memerangi militer Myanmar, alias Tatmadaw.
The Transnational Institute melaporkan, Myanmar adalah salah satu negara dengan jumlah kelompok etnik paling beragam di dunia. Kelompok etnik minoritas telah lama terpinggirkan dan ditolak hak-hak dasarnya. Perang saudara yang terus berlangsung selama puluhan tahun justru semakin membuat kelompok etnik ini menderita.
Motif yang melatarbelakangi kelompok-kelompok etnik bersenjata memerangi pemerintah Myanmar beragam. Ada yang menuntut kemerdekaan, perluasan otonomi, atau menuntut dibentuknya negara federasi.
Majalah Time bahkan menyebut konflik Myanmar merupakan perang saudara terlama di dunia. Tercatat, ada belasan kelompok bersenjata di Myanmar yang mengobarkan perang terhadap pemerintah Myanmar.















Komentar