RASIOO.id – Istilah barokah kerap kali dipakai di kalangan umat Islam. Barokah, kata yang tidak asing lagi. Bahkan, sering kita mengucapkan, mendengar dan berdoa mendapatkan barokah ilmu, keberkahan umur, keluarga, harta benda dan usaha. Barang kali bagi sebagian umat Islam, barokah sudah menjadi keyakinan yang tidak bisa terbantahkan lagi, terlepas masih adanya sekelompok orang (kaum materialis) yang masih meragukan keberadaan barokah.
Secara bahasa (lughawy), barokah berararti al-nama’ wa al-ziyadah (berkembang da nbertambah). Bisa juga bermakna tetapnya sesuatu, kemudian dia bercabang dan berdekatan satu sama lain. Bahkan Al-Farra’ mengatakan barokah adalah kebahagian dan ketentraman.
Namun secara terminologi (ishtilahy) barokah adalah kebaikan dari Allah yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya. (Lisanu al-Arab, X,395; Ensiklopedi Al-Qur’an, 55-56), sebagaimana firman Allah :
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبارَكاً وَهُدىً لِلْعالَمِينَ
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun (tempatberibadah) manusia adalah baitullah di Makkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” (QS. Ali Imran [3]:96).
Dari ayat ini, para mufasir mengatakan bahwa barokah memiliki dua pengertian. Pertama, an-Numuwwuwa at-Tazayud (berkembang dan bertambah). Dengan pengertian ini, maka keberkahan Bitullah terletak pada pahala yang berlipat ganda. Orang yang sholat di Masjidil Haram, akan diberi pahala yang lebih dibandingkan sholat di masjid lainnya.
Demikian juga ibadah haji, menjanjikan pahala yang menggiurkan. Kedua, al-Baqa’ wa ad-Dawam (kekaldanselamanya). Bahwa Ka’bah tidakakan pernah sepi dari orang-orang yang thawaf, i’tikaf dan sholat lima waktu.
Hal itu dilakukan oleh kaum muslimin sampai hari kiamat menjelang. (Ruh al-Ma’aniy, IV, 5; At-Tafsir al-Kabir, VIII, 130).
Dalamayat lain Allah berfirman :
وَلَوْأَنَّأَهْلَالْقُرَىآمَنُواوَاتَّقَوْالَفَتَحْنَاعَلَيْهِمْبَرَكَاتٍمِنَالسَّمَاءِوَالأرْضِوَلَكِنْكَذَّبُوافَأَخَذْنَاهُمْبِمَاكَانُوايَكْسِبُونَ
“Andai kata penduduk negeri beriman dan bertaqwa, niscaya kami berikan pada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al-A’raf [7]:96).
Ayat ini menjelaskan, bahwa orang-orang yang beriman dan bertaqwa yang akan memperoleh barokah. Mereka akan dianugrahkan segala kebaikan. Baik berupa hujan (nimat) dari langit maupun tanaman yang subur dan buah-buahan yang ranum dari perut bumi, serta rizqi mereka akan dijamin oleh Allah Swt. (Shofwatu at-Tafasir, I, 461; Al-Qurtubi, VII, 253).
Dua ayat di atas mengindikasikan bahwa barokah itu ada dua macam. Pertama, bersifat ukhrawy, yaitu berkaitan dengan pahala dan syurga.
Kedua, bersipat duniawy, yaitu barokah yang dirasakan langsung dan nyata. Seperti Sabda Nabi Muhammad Saw :
تسَحَّرُوا؛فإنَّفيالسَّحورِبَرَكةً
“Sahurlah kalian karena didalamnya terdapat barokah” (HR. Bukhari).
Barokah dalam hadis ini, satu sisi berarti tambahan pahala.Karena dengan sahur, berarti kita telah melaksanakan sunnah Nabi (iqamatu as-sunnah). Di sisi lain, barokah dalam sahur menyebabkan tubuh kita kuat berpuasa, segar bugar dan mudah melaksanakan ibadah lain. Oleh sebab itu, barokah merupakan “nilai plus” yang diberikan Allah kepada hamba-Nya (Fathu al-Bari, IV, 140).
Oleh karena itu, barokah bukanlah sekedar khayal dan angan semata.Dia bisa dirasakan dan nyata. Meskipun untuk mendapatkannya laksana jarum di malam yang gelap gulita.
Tidak sembarangan orang mengaisnya.Hanya orang – orang yang beriman dan bertaqwa bisa menggapainya.
Demikian halnya dengan kehidupan di negeri tercinta. Masih banyak rakyat hidup sengsara dan menderita. Bukankah Indonesia mempunyai kekayaan alam yang tak terhingga?. Apakah sudah hilangkah keberkahannya ? Semoga keberkahan tidak dicabut dari negeri kita. Amin.
Wakil Ketua PCNU Kota Bogor
H. Moh. Romli


![IMG-20230327-WA0050 Umat Muslim saat melaksanakan salat tarawih di Masjid Baitul Faizin Bogor [Selo/RASIOO]](/wp-content/uploads/2023/03/IMG-20230327-WA0050-e1680420803941.jpg)










Komentar