RASIOO.id – Di sebuah sudut kota yang sibuk dengan baliho-baliho pencalonan dan semangat pembangunan infrastruktur, ada sebuah gedung kesenian yang sunyi. Lantai panggungnya berdebu, kursinya kosong, dan lampu sorotnya hanya menyala ketika ada acara pelepasan purna tugas pejabat eselon tiga. Itupun yang datang cuma keluarga panitia dan dua wartawan lokal—salah satunya lagi nyambi jualan pulsa.
Kesenian sebagai anak kandung kebudayaan tampaknya kini lebih sering dianggap anak tiri dalam pesta pembangunan. Ia duduk di meja paling ujung, disapa basa-basi, diberi jatah anggaran seadanya, lalu dijadikan pajangan saat kunjungan pejabat luar daerah: “Lihat, kami punya reog, topeng, dan tari-tarian!” Tapi setelah itu? Mereka kembali masuk ke dalam gudang, bersebelahan dengan alat marching band dan tenda hajatan.
Lucunya, saat ditanya soal nilai budaya, semua pejabat kompak menjawab, “Kami sangat menjunjung tinggi kearifan lokal.” Tapi ketika ditanya siapa nama penari jaipong dari desa sebelah, mereka menjawab, “Silakan hubungi protokol.”
Sementara itu, para budayawan juga kadang tidak kalah membingungkan. Banyak yang terjebak dalam romantisme masa lalu—menjadi penyair yang hanya didengar sesama penyair, atau membacakan puisi panjang soal penjajahan budaya asing… di cafe yang menjual kopi latte dengan nama menu dalam bahasa Perancis.
Mereka lupa bahwa budaya bukan hanya soal masa lalu yang dibingkai di dinding, tapi juga nilai yang relevan untuk masa kini dan masa depan. Bukan cuma soal gamelan dan batik, tapi juga tentang etika di dunia digital, cara bicara di media sosial, dan bagaimana menjaga martabat manusia di tengah arus teknologi yang menekan tombol hati nurani.
Seharusnya, budayawan bukan hanya mereka yang pakai ikat kepala dan bicara puitis. Tapi politisi yang paham nilai, kyai yang memuliakan tradisi, teknokrat yang berjiwa estetis, dan birokrat yang tahu bahwa angka-angka dalam APBD itu juga harus bicara tentang manusia—bukan cuma beton dan lampu taman warna-warni.
Karena pada akhirnya, kebudayaan bukan sekadar tontonan, tapi tuntunan. Dan selama ia hanya ditampilkan saat peresmian gedung atau pembukaan festival UMKM, maka kita sedang membangun tanpa jiwa.
Lalu kita pun heran, kenapa pembangunan terasa sepi… padahal anggaran sudah habis.
Simak rasioo.id di Google News









![IMG-20230327-WA0050 Umat Muslim saat melaksanakan salat tarawih di Masjid Baitul Faizin Bogor [Selo/RASIOO]](/wp-content/uploads/2023/03/IMG-20230327-WA0050-1024x682.jpg)



![cdc5a18b-3ed2-4bde-bb28-f3311e816d13 Umat Muslim saat melaksanakan salat tarawih di Masjid Baitul Faizin Bogor [Selo/RASIOO]](/wp-content/uploads/2023/03/cdc5a18b-3ed2-4bde-bb28-f3311e816d13-1024x682.jpg)
Komentar