RASIOO.id – Kondisi Sungai Cisadane di sekitar Kelurahan Selapajang, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, dikeluhkan warga. Air sungai disebut berubah menjadi hitam dan mengeluarkan bau dalam beberapa bulan terakhir, terutama saat debit air menyusut pada musim kemarau.
Feri, warga Selapajang yang sehari-hari membantu menjaga perahu eretan di Sungai Cisadane, mengatakan perubahan warna air mulai terlihat sekitar dua hingga tiga bulan terakhir.
“Sudah kurang lebih, tiga bulanan,” kata Feri saat ditemui di tepian Sungai Cisadane, Senin, 17 Agustus 2026.
Menurut Feri, kondisi tersebut semakin terlihat ketika debit sungai menurun akibat musim kemarau. Berbeda ketika hujan turun di wilayah hulu seperti Bogor, debit air Cisadane dapat meningkat dan kondisi alirannya berubah.
“Ya kemarau mungkin, kering. Dia kan enggak kena hujan,” ujarnya.
Ia juga mengaku melihat dampak perubahan kondisi air terhadap keberadaan ikan di sungai. Menurutnya, ikan sempat ditemukan mati dalam jumlah banyak ketika kondisi air mulai memburuk.
“Semenjak airnya menghitam, ikannya pada mati, mabuk kayaknya. Sekarang malah parah sudah enggak ada ikannya,” ujar Feri.
Feri menduga ikan berpindah ke bagian sungai yang kondisi airnya lebih baik. Ia mengatakan ikan biasanya kembali terlihat ketika debit air meningkat dan kondisi aliran kembali normal.
Selain perubahan warna, warga juga mengeluhkan bau yang muncul ketika air sungai menghitam.
“Bau. Kalau air hitam begini mah bau. Kalau air jalan tuh enggak,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, Feri turut menyoroti aktivitas sejumlah industri di sekitar aliran Sungai Cisadane. Berdasarkan pengamatannya, terdapat sejumlah aktivitas usaha di kawasan tersebut yang memiliki saluran pembuangan menuju sekitar aliran sungai.
Ia menyebut salah satunya merupakan aktivitas industri yang berkaitan dengan tiner. Namun, Feri mengaku tidak mengetahui secara pasti nama perusahaan maupun memastikan sumber penyebab perubahan warna air tersebut.
“Disini (Kampung Kelor) dekat sekali dengan sungai juga ada pabrik tiner,” ujarnya.
Feri juga menyebut terdapat aktivitas pengolahan sampah di sekitar sungai. Menurutnya, sampah dari sejumlah tempat dibawa ke lokasi untuk dipilah dan diambil bagian tertentu.
“Pabrik sampah kebanyakan sampah. Kadang-kadang sampah dari hotel diambil, dibuang ke sini. Nanti sisahnya diambilin kerompongannya,” kata Feri.
Ia memperkirakan terdapat lebih dari 10 aktivitas pabrik dan pengolahan di sekitar wilayah Neglasari dengan berbagai jenis usaha. Namun, seluruh informasi tersebut merupakan pengamatan warga dan belum dapat memastikan apakah aktivitas tersebut berkaitan langsung dengan perubahan kondisi air Cisadane.
Perubahan warna dan bau air membuat warga yang sehari-hari beraktivitas di sekitar sungai semakin mudah melihat perbedaan kondisi Cisadane. Sungai tersebut masih dimanfaatkan sebagai jalur penyeberangan menggunakan perahu eretan menuju wilayah Kabupaten Tangerang.
Selain untuk aktivitas penyeberangan, sebagian warga juga masih memanfaatkan aliran sungai untuk mencuci.
Kondisi air yang menghitam dan berbau pun menjadi perhatian warga karena tidak hanya menyangkut aktivitas masyarakat, tetapi juga keberadaan biota sungai yang disebut semakin sulit ditemukan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab perubahan warna air Sungai Cisadane di kawasan Selapajang tersebut.















Komentar