RASIOO.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mengajak sekolah dan perguruan tinggi bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah, aman, dan bebas stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV).
Upaya tersebut menjadi bagian dari penyusunan Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang Penanggulangan HIV sebagai langkah menuju target Kota Bogor bebas HIV pada 2030.
Pembahasan aturan tersebut dilakukan melalui rapat harmonisasi Perwali di Paseban Sri Baduga, Kota Bogor, Senin, 21 September 2026. Sejumlah pendidik dan akademisi turut hadir untuk memberikan masukan terkait penanganan HIV di lingkungan pendidikan.
Perwali tersebut diharapkan dapat memperjelas peran masing-masing pihak dalam upaya pencegahan HIV sekaligus memastikan hak ODHIV tetap terlindungi di sekolah maupun perguruan tinggi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Dr. Erna Nuraena, mengatakan penanggulangan HIV tidak bisa hanya mengandalkan tenaga kesehatan. Menurutnya, dukungan sekolah, kampus, keluarga, dan masyarakat juga diperlukan.
“Menciptakan sekolah yang ramah dan aman dan edukasi langsung di sekolah menjadi prioritas utama,” ujar Erna, Senin, 21 September 2026.
Erna mengatakan perhatian terhadap kelompok remaja menjadi penting karena Dinkes Kota Bogor masih menemukan kasus baru HIV pada kelompok usia 15 hingga 19 tahun.
Selain upaya pencegahan, edukasi mengenai HIV juga dinilai penting untuk mengurangi stigma terhadap ODHIV. Erna menjelaskan, ODHIV yang menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara teratur dapat menekan jumlah virus dalam tubuh hingga berada pada tingkat tersupresi.
Kondisi tersebut berkaitan dengan risiko penularan HIV yang dapat ditekan secara efektif ketika terapi dijalankan secara konsisten. Karena itu, ODHIV tidak seharusnya dijauhi atau dikucilkan dalam lingkungan pendidikan.
Dinkes Kota Bogor juga menyebut lebih dari 180 fasilitas kesehatan telah tersedia untuk mendukung layanan pemeriksaan dan pengobatan HIV.
Melalui keterlibatan sekolah dan perguruan tinggi, Dinkes berharap edukasi HIV dapat semakin luas sekaligus mendorong terciptanya lingkungan belajar yang mendukung dan tidak mendiskriminasi ODHIV.














Komentar