Kisah Panji Gumilang, Bangun Al Zaytun dan Keterkaitannya dengan NII KW 9

 

RASIOO.idPanji Gumilang kembali menjadi sorotan publik atas sikap dan ajarannya yang kontroversial. Berpuluh tahun memimpin Pondok Pesantren Al Zaytun, Indramayu, Jawa Barat, Panji Gumilang memang kerap dikaitkan dengan berbagai stigma negatif.

Majelis Ulama Indonesia 20 tahun lalu bahkan menyimpulkan adanya ajaran menyimpang yang diajarkan Panji Gumilang di Ma’had Al Zaytun (MA).

Kontroversi kembali muncul saat Panji Gumilang mensejajarkan perempuan pada shaf shalat idul fitri 1444 H yang lalu, dan melontarkan pernyataan yang membolehkan perempuan menjadi khatib salat Jum’at.

Lalu, siapa sebenarnya sosok Panji Gumilang dan bagaimana dia membangun Ponpes Al Zaytun? Berikut kisah ringkas yang dikutip rasioo.id dari ensklopedi tokoh Indonesia dan sumber lainnya.

Baca Juga : Kualitas Pendidikan Indonesia Rendah di Mata Dunia, Berapa Jumlah Sekolah di Indonesia?

Anak Guru dan Kepala Desa

Pria kelahiran Gresik 30 Juli 1946 ini, memiliki nama lengkap Abdussalam Panji Gumilang. Ayahnya, seorang guru dan juga kepala desa. Termotivasi kiprah Ayahnya, sejak kecil, dia memang bercita-cita menjadi guru dan mendirikan sebuah lembaga pendidikan.

Awal keinginannya menjadi guru, terpantik ketika dirinya masih kecil yakni antara tahun 1952 atau 1953, saat ada program pemberantasan buta huruf (PBB).

Ketika itu ia masih kelas satu Sekolah Rakyat (SR). Begitu pulang sekolah ia ditanya orang tuanya, “Kamu diajar apa tadi?” Kemudian ia jawab, “Ini pak, diajari baca po,lo,wo, go, ro, no, go, sos, ro, to, mo, ho,…”. Masa itu yang diajarkan bukan a,b,c,d, tapi po, lo, wo, dan seterusnya. Orang tuanya pun tanya lagi, “Kamu sudah bisa nulis?” Dijawabnya, “Bisa pak”. Lalu ayahnya menganjurkan: “Nanti malam, kamu mengajar ya…!”

Ia pun lantas mengajar pemberantasan buta huruf orang-orang yang sudah sepuh. Ia merasa bangga dan senang. Pagi-pagi ditanya Pak Guru, disuruh menulis, ia bisa. Malam harinya, ia mengajar beberapa orang buta huruf, sekaligus mengulang pelajaran yang diterima di sekolah pada pagi harinya. Mengajar orang-orang sepuh itu, membangkitkan perasaan sangat senang. Saat itu suasana belajar dan mengajar membuatnya sangat senang.

Baca Juga : Patut Dicontoh Begini Cara Ariani Nisma Putri Peraih Golden Buzzer di AGT Menjalani Pendidikan

Bersamaan setelah tamat SR, sekolah yang tadinya dibina oleh orang tuanya, akhirnya diambilalih sebuah yayasan. Orang tuanya sudah tidak mengurus lagi. Pengambilalihan Madrasah ini berkesan bagi diri dan keluarganya. Bersamaan dengan itu, ia pun kemudian meninggalkan Gresik, kampung kelahirannya itu. Tidak mau tinggal di sana lagi.

Pada tahun 1961, Panji Gumilang melanjutkan sekolahnya ke Ponpes Gontor. Di sana, di samping belajar, ia juga sudah sangat tertarik mengamati cara mendidik dari berbagai guru.

Sehingga ketika suatu kali ia mendapat didikan yang keras dari seorang guru yakni pernah ditempeleng, juga pernah dicukur rambutnya, kenangan itu masih diingatnya sampai sekarang. Bukan karena dendam, tapi karena ia tidak setuju dengan cara mendidik seperti itu. Pengalaman itu akhirnya begitu cepat menanamkan hal positif dalam hatinya.

Selesai dari Gontor, pada tahun 1966, Panji Gumilang datang ke Jakarta. Saat itu di Jakarta baru saja terjadi setelah peristiwa Gerakan 30 September, sehingga suasananya masih belum tenang. Karena itu, orang tuanya awalnya tidak terlalu mengijinkan, karena konon kata orangtuanya, Jakarta adalah tempat kekerasan. Namun, dia bisa meyakinkan orang tuanya yang kemudian dengan berat hati akhirnya mengijinkan Panji ke Ibu Kota.

Memilih Lokasi Indramayu

Di Jakarta, ia kemudian masuk ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di Ciputat. Selama di IAIN, ia mulai sering berkumpul dengan kawan-kawannya, dan mulai merencanakan mendirikan suatu lembaga pendidikan yang bisa mewakili kemajuan Indonesia.

Keinginan-keinginan itu semakin kuat tapi tak pernah kunjung terwujud. Namun walaupun begitu, dia terus bergerak dan berkarya. Dalam upayanya itu ia pernah membuat gambar dan lain sebagainya, kemudian didagangkannya pada kawan-kawannya. Namun kawan-kawannya tidak begitu percaya, bahkan menganggap idenya itu suatu ide yang tidak masuk akal.

“Ah…kamu ini gila, bagaimana kita bisa membuat seperti ini,” begitulah kadang sambutan kawannya ketika itu. Namun ia tetap yakin, “Oh…bisa kalau kita buat, kalau nggak kita buat, memang nggak bisa,” katanya menjawab temannya. “Kapan?” tanya kawannya itu lagi. “Jangan tanya kapan, tapi mau apa tidak?” jawabnya lagi pada kawannya.

Ternyata kesabaran dan upayanya meyakinkan kawan-kawannya itu berhasil juga. Akhirnya, mereka banyak yang mau. Kemudian ia mulai mencari lokasi ke seluruh Indonesia, sampai ke Lampung, Kalimantan. Walaupun menemukan tempat yang luas tapi susah untuk dibangun. Maka ketika ia menemukan lokasi di Mekar Jaya, menurutnya sama seperti menerka kelahiran sendiri, tidak tahu akan lahir kapan dan di mana.

Menurut Panji Gumilang, pembelian tanah yang menjadi lokasi Ma’had Al-Zaytun ini hanya diawali dengan berbincang-bincang di ujung kampung Mekar Jaya. Saat itu, seseorang bertanya, mau beli tanah? Ia jawab jalan-jalan saja. Walaupun sudah berusaha untuk tidak memberitahu bahwa ia sedang cari tanah, namun karena orang itu mengetahui ada tanah mau dijual, akhirnya seolah membujuknya. Ia pun merespon dan bersedia meninjau dan akhirnya cocok. Awalnya tanah yang dibeli hanya 65 ha.

Namun dengan bantuan kawan-kawannya, kemudian bisa terbeli seluas 1.200 ha. “Untuk memulai segala sesuatu itu harus dari kita, apa yang ada pada kita, kita dagangkan, kita dirikan tempat ini bersama-sama. Untuk 65 ha lahan pada tahun 1996 itu, kita membelinya bersama sekitar 30 orang kawan-kawan,” katanya menjelaskan.

Menurutnya, lokasi Al-Zaytun sekarang pun bukan suatu yang direncanakan. Sebelumnya mereka merencanakan tempat yang agak lebih dekat dengan Jakarta. Mereka sudah mendapatkan tempat yakni yang sekarang ditempati oleh pabrik Texmaco di Subang, Purwakarta. Ketika itu sudah setuju, hargapun sudah setuju, namun suatu yang tidak dipahami terjadi, akhirnya tidak jadi membeli tempat itu.

Ponpes Al Zaytun (ist)

Pandangannya Tentang Pendidikan

Panji Gumilang berpandangan pendidikan bertujuan untuk menyambung peradaban. Menurut dia, agar peradaban umat manusia tidak putus, maka dengan berbagai kemampuan yang ada padanya, ia berusaha menyambungnya. Itulah cita-citanya mendirikan pesantren ini, di samping untuk merangkum kehendak bangsa Indonesia sendiri, menjadi bangsa yang diperhitungkan di antara bangsa-bangsa lain.

Dia berpendapat bahwa peradaban tersebut harus disambung dengan manajemen ‘kekitaan’ bukan ‘keakuan’. Sebab menurutnya, keakuan umurnya sangat pendek, hanya terbatas. Tapi kalau kekitaan berumur lama dan tidak pernah putus. “Kekitaan itu mempunyai satu kekuatan yang tidak pernah dapat diruntuhkan oleh siapa pun kecuali oleh yang membuat kita itu sendiri,” katanya lebih jelas.

Kekitaan itu pulalah yang dipakainya dalam membangun dan mengelola Ma’had Al Zaytun ini.  Dia menceritakan sedikit kisah mengenai wal mula adanya ide atau cita-cita pendirian lembaga pendidikan ini.

Dia mengatakan bahwa sebagaimana orang pada umumnya selalu punya cita-cita untuk berlaku, berbuat dalam kebaikan, demikian juga halnya dengan dirinya. Dimotivasi sosok ayahnya yang mempengaruhi menguatnya cita-cita menjadi guru dan mendirikan lembaga pendidikan terpadu.

Boleh dibilang, Ponpes Al Zaytun menjadi pelopor pendidikan terpadu. Di lahan seluas 1200 hektare tersebut bukan hanya kelas-kelas yang dibangun, melainkan juga kegiatan pertanian dan peternakan. Panji menyebutnya sebagai laboratorium.

Gerakan NII KW-9

Namun, berbagai ajarannya yang kadang kontroversial membuat stigma negatif dialamatkan ke Al Zaytun. Panji Gumilang  kerap dikaitkan dengan Gerakan Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW9). Keberadaan pondok pesantren Al Zaytun juga dinilai tidak lepas dari sejarah NII KW 9. Gerakan NII KW 9 ini berbeda dengan NII yang pernah digagas oleh Kartosoewirjo.

Pengamat terorisme Al Chaidar mengungkapkan, gerakan NII KW 9 telah muncul sejak 1991 di Banten. Kala itu ada sebanyak 14 juta orang yang bergabung dengan NII KW 9 dan bersedia mengumpulkan dana.

Al Chaidar menyebut dari 14 juta orang itu terkumpul dana mencapai Rp 800 miliar. Dana itulah yang digunakan untuk membangun Ma’had Al Zaytun sebagai pusat dari pada NII KW 9. Dalam perkembangannya, di bawah pimpinan Panji Gumilang, NII KW 9 memperluas pengaruhnya ke seluruh wilayah.

Lebih lanjut Al Chaidar mengatakan bahwa orang-orang yang masuk ke Al Zaytun dan bergabung dengan NII KW 9 lambat laun akan diperas hartanya. Karena itu para anggotanya berakhir mengalami kerusakan finansial dan kehancuran dalam keluarga.

Untuk menguatkan citranya di mata orang-orang yang bergabung yang kebanyakan masih memiliki keterkaitan  dengan keluarga NII, Panji Gumilang pun mendeklarasikan diri sebagai Imam negara Islam Indonesia.

Hal itu membuat pengikutnya pun semakin bertambah hingga 40 juta orang. Dana dari anggota NII KW 9 pun terus masuk dan digunakan sebagian untuk pembangunan lembaga pendidikan hingga pelabuhan dan kapal-kapal.

Oleh karena itu, menurut Al Chaidar NII KW 9 bukanlah NII yang pernah dipimpin oleh Kartosoewirjo. Sebab sejatinya memiliki tujuan utama yang jauh berbeda. Misi NII KW 9 sebatas meraup dana masyarakat untuk kepentingan elit NII KW 9 dan sejumlah jenderal dan pejabat yang kini masih memiliki pengaruh besar.

“Jadi al Zaytun itu NII KW 9 yang merupakan NII Palsu. Bukan NII asli. Jadi tidak ada hubungan. Misi utamanya adalah mengumpulkan uang saja, tidak pernah dia mendirikan Negara Islam. Karena itu dia organisasi NII palsu, hanya  untuk mengelabui masyarakat saja, mengelabui jamaah, supaya jamaah itu mengumpulkan dana. Supaya membuat proyek-proyek besar,” sekolah, pesantren, sampai Bank CIC yang kemudian bangkrut itu,” katanya, belum lama ini. (ETI/rep)

 

 

Komentar